SAYA diberi kehormatan oleh salah satu asisten redaktur di Lampung Post, Chairil Anwar, untuk menulis tulisan Setitik Air untuk Lampung Post yang rutin terbit setiap Jumat. Agak mendadak, tapi mau tidak mau harus tetap saya kerjakan. Tapi, tidak ada ide tulisan; buntu!

Untuk mempercepat tulisan itu, saya mencoba mencari artikel yang sesuai dengan tulisan di Setitik Air yang lebih serius atau agak religi.



Saya berpikir sejenak, tidak lama kemudian saya mencari artikel di Mbah Google tentang buntu ide tulisan. Ketika saya ketik di Google “buntu ide tulisan”, ada beberapa artikel yang tertera di bawahnya, kemudian saya buka yang paling atas.

Buntu Mencari Ide Saat Menulis? Ini Tips Fira Basuki. Itu judul artikel yang akan saya buka. Tadinya artikel yang berasal dari www.republika.co.id itu enggak mau saya baca, mau saya copy-paste doang biar cepat kelar tulisannya, saya tinggal kasih kesimpulannya saja di bagian akhir tulisan saya. Tapi, enggak mungkin dong, parah banget, sudah copy-paste, enggak dibaca pula. Dan, akhirnya saya baca. Inilah artikelnya, maaf ini artikelnya saya copy-paste di tulisan ini, saya pikir ini bermanfaat bagi saya terutama, dan pembaca.

Isi artikelnya begini. Menulis bisa dilakukan siapa saja. Hanya saja, mengembangkan ide untuk menjadi sebuah tulisan tidak semua orang bisa melakukannya.

Inspirasi dan ide menjadi modal besar penulis untuk dapat mengembangkan cerita atau tulisan. Terkadang, dalam proses menulis sebuah cerita, ide, dan inspirasi itu bisa lenyap seketika.

Menurut penulis buku best seller, Fira Basuki, kendala dalam block writing sesungguhnya mudah untuk diatasi dan keluhan kesulitan untuk menuliskan ide terjadi pada penulis yang justru tidak terbiasa menulis.

"Kalau block writing, itu karena tidak melatih dirinya. Di samping itu, sebagai penulis terkadang tidak membuka wawasan," kata Fira.

Ketika seorang penulis kehabisan ide atau tidak tahu bagaimana mengembangkan tulisannya, membuka wawasan seluas-luasnya menjadi jalan keluar. Cara paling mudah dengan membaca buku, sebab penulis bukan berarti hanya bekerja menulis, melainkan perlu ditunjang dengan membaca buku.

Dengan memperluas jaringan dan banyak bergaul dengan orang lain, penulis tidak akan pernah kehabisan ide. "Ya, kan ide itu enggak jatuh dari langit. Harus dieksplorasi ide itu," kata ibu dua anak ini.

Selain itu, penulis juga harus peka terhadap sekelilingnya. Setiap hal yang terlihat atau terdengar remeh dan tidak menarik justru bisa menjadi kunci ide berikutnya.

"Contohnya dari mimpi, kayak novel Atap karya saya, itu mimpi. Mimpinya terbang terus duduk di atap," kata Fira.

Dari hal yang dianggap tidak masuk akal hingga paling ringan, tidak boleh luput dari pantauan penulis. Sensitivitas terhadap keadaan harus dijaga agar ide mengalir tanpa henti. Sekian isi artikelnya. Terima kasih, Mba Fira Basuki. n

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR