WAKTU terasa cepat berlalu. Masih jelas teringat saat kepala ibu sesekali melongok dari balik jendela sekolah hanya untuk memastikan anaknya yang cengeng belajar tanpa merengek. Masih terasa pula pelukan ibu saat tubuh kecil kita menggigil karena terserang demam. Hari-hari kita tak luput dari pengawasan seorang ibu; sang malaikat penjaga kita sewaktu kecil.

Lembar demi lembar tahapan kehidupan bergulir. Lulus sekolah, sang ibulah yang menenangkan hati kala puluhan surat lamaran pekerjaan tak juga mendapat tanggapan. Namun, begitu kabar diterima kerja sampai ke telinganya, rasa bahagia ibu seperti tak terperi. Masuk ke dunia kerja, peran ibu terus ada untuk menguatkan diri kita di dunia baru yang keras.



Sementara, dari sudut pandang kita, seolah semua yang didapatkan itu adalah hasil kerja keras sendiri. Tanpa kita tahu, setiap malam ibu tak luput untuk bersujud memohon doa untuk kita, anak-anaknya.

Satu babak kehidupan kembali kita lalui. Air mata ibu tak mampu lagi terbendung saat kita mencium tangannya. Kali ini kita tidak sendiri, tetapi bersama pasangan hidup. Sejak itu, ibu pun masih bersama-sama kita meski tak lagi seatap. Namun, saat berada di posisi itulah, kita baru merasakan betapa berharganya kehadiran seorang ibu selama ini di sisi kita.

Meski setidaknya setiap akhir pekan menemuinya, tetap ada kehilangan rasa kebersamaan dengan seorang ibu. Jika kesibukan kerja amat padat, terkadang tanpa berdosa kita membiarkannya tersiksa menahan rindu kepada anaknya. Sedikitnya tempat di tulisan ini tak akan cukup untuk menceritakan tentang sosok ibu.

Saya memanggilnya emak. Sebisa mungkin saya menyambanginya di sela-sela rutinitas. Ya, masih pada tahap menyempatkan diri. Begitu sampai, emak pasti menuju dapur, menghidangkan segala apa yang ada. Bahkan, dari bahasa emak, dia merasa bersalah saat menyuguhkan tak banyak makanan di meja untuk kami.

Jangan heran, meskipun dalam kondisi tak punya apa-apa, seorang ibu tak akan pernah meminta kepada anak-anaknya. Begitupun dengan emak. Justru, anak-anaknyalah yang mesti peka dengan kebutuhan orang tua. Bahkan, tak jarang mereka mengaku baik-baik saja di tengah rasa sakit yang mendera semata-mata tidak ingin membuat sang anak khawatir.

Pertanyaan muncul dari dalam diri, buat apa kita meluangkan begitu banyak waktu kita hanya untuk mengejar dunia, sementara surga sesungguhnya ada di bawah telapak kaki ibu. Maka, jika sejauh ini kita sekadar menyempatkan diri atau bahkan sudah lama tak mengunjungi ibu, rasanya mulai sekarang kita mesti lebih banyak meluangkan waktu menyambanginya.

Buka kembali foto dirinya. Pandang raut wajah teduhnya. Semoga itu menumbuhkan rasa rindu kita untuk segera menggengam hangat telapak tangannya. Sejatinya, beruntunglah kita yang masih memiliki orang tua di dunia. Sebab, banyak di antara kita yang rindu dengan orang tua, tapi tak tahu ke mana harus melangkahkan kaki.

 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR