Kotabumi (Lampost.co): Diantara rimbunnya bibit karet yang ditangkarkan, terselip asa kapan harga getah karet akan kembali stabil. Penangkar bibit karet okulasi, Nuri, warga Desa Suka Maju, Kecamatan Abung Semuli di lokasi penangkaran miliknya, Senin ,23 September 2019 mengatakan, mulai 2015 lalu, sejak harga getah berada di kisaran angka Rp5.000/kg hingga  Rp7.000/kg, secara bertahap banyak petani karet di Lampung Utara mengalihkan komoditas perkebunannya ke tanaman lain yang di nilai lebih menguntungkan, seperti; singkong ataupun jagung.

Dampak terjadinya alih komoditas tersebut, secara tidak langsung juga dirasakan para penangkar bibit karet, seiring dengan turunnya jumlah permintaan bibit untuk peremajaan kebun karet milik  para pekebun. 



"Bukan hanya petani karet, dampak anjloknya harga getah secara tidak langsung juga dirasakan pada penangkar seiring dengan turunnya permintaan bibit untuk peremajaan kebun karet yang tidak berproduksi atau karet tua," ujarnya. 

Sebelumnya, antara 2011 hingga 2014 permintaan bibit karet di lokasi penangkarannya berkisar 15 ribu batang sekali musim tanam pada musim penghujan. Itupun, terbagi dengan sesama rekan-rekan sesama penangkar.  

Mulai 2015 sampai 2018 atau selama harga karet anjlok, permintaan bibit di penangkaran yang dia kelola mengalami penurunan, dikisaran angka 10 ribu batang sekali musim tanam. Untuk harga jual bibit okulasi yang ditangkarkan, tergantung varietas, misal untuk varietas BP-260 di jual Rp5000/batang, GT-1 ( Rp6000/batang), RIM (Rp 7000/batang) dan untuk RC serta BPM (Rp10,000/batang). 

"Mulai 2015, secara bertahap permintaan bibit karet di lokasi penangkarannya, terus mengalami penurunan seiring dengan semakin banyaknya lahan karet yang beralih komoditas ke tanaman yang lebih menguntungkan" kata dia. 

Terpisah, Jumali, warga Desa Suka Maju, Kecamatan Abung Semuli, di kantor balai desa setempat, mengaku sebelum anjloknya harga getah, jumlah penangkar bibit karet didesanya terhitung sekitar 30 kepala keluarga (KK). Mulai 2016 s/d 2019 berjalan, secara bertahan jumlah penangkar bibit mengalami penurunan karena sepinya permintaan.

"Sebelumnya saya juga penangkar bibit karet, mulai 2018 lalu saya berhenti menangkarkan bibit karena tidak adanya permintaan. Sampai saat ini, jumlah penangkar yang masih ada didesanya tersisa hanya 4 KK saja." tuturnya pada lampost.co. 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR