Bandar Lampung (Lampost.co):  Wajah sendu terpancar oleh Aminah (40), penjual jamu gendong. Ia berdagang jamu keliling dari kios ke kios, sejak pagi hingga siang hari di pasar Way Halim, Bandar Lampung. Itu dilakukan demi membantu ekonomi keluarga. Sementara suaminya berprofesi sebagai pemulung. 

"Saya jualan jamu ini bisa dapat penghasilan Rp50 ribu sehari untuk makan sehari-hari. Kalau suami saya yang mengurus keperluan sekolah anak-anak dan kebutuhan bayar listrik," ujarnya saat ditemui di kediamannya yang beralamat di Jalan Kayu Manis, Gang Damar, Kedaton, Kamis, 10 Oktober 2019.



Untuk biaya sekolah anak, ia mendapatkan dana bantuan sekolah dari pemerintah kota Bandar Lampung. Biasanya, Aminah menerima dana Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah per tiga bulan sekali. Nilainya sebesar Rp400 ribu. Namun, sudah berkali-kali dana yang menjadi haknya tak kunjung cair.

"Saya tidak tahu apa alasan tidak dapat lagi dana ini, padahal keadaan saya benarcbenar butuh. Saya sampai bingung tetangga saya yang rumahnya kokoh dan permanen justru dapat dana bantuan PKH," ujar dia.

Mengenai data, diakuinya telah mengisi sesuai dengan persyaratan. Namanya juga sempat mendapat undangan kumpulan dari kelompok di RT nya. Tetapi tak kunjung keluar dana yang dialokasikan untuk keluarga kurang mampu di Indonesia ini.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan yang saat ini diperlukan cukup banyak, selain itu harga bahan pokok yang mencekik membuat ia kesulitan membagi hasil dagangan jamunya dengan pendapatan sang suami yang merongsok di sekitaran PKOR Way Halim ini.

"Saya harap, secepatnya data saya dapat di proses. Atau mungkin ada pendataan ulang sehingga nama saya tidak akan terlewat jika untuk pencairan dana ini," ujarnya.

Sampai saat ini ia terus berusaha agar haknya dipenuhi. Baginya, dana tersebut sangat berguna untuk menopang kebutuhan sehari-hari.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR