Jakarta (Lampost.cp) -- Oxford English dictionary, mendefinisikan hoax sebagai malicious deception alias kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. Kata hoax telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi hoaks, yang artinya lebih padat: berita bohong.

Tahun lalu, kita dihebohkan dengan terungkapnya kelompok 'bisnis' berita bohong, Saracen. Sindikat maya yang eksis sejak November 2015 itu memproduksi dan menyebarkan ujaran kebencian berkonten suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA) di media sosial. 

Ucapan Ketua Komite Fact Checking Mafindo Aribowo Sasmito tentang hoaks, boleh jadi benar adanya. September 2017, ia menyebut pola penyebaran informasi hoaks trennya selalu berulang.

Mengawali tahun ini, fenomena hoaks tak kalah heboh. Bedanya, para pelaku tidak teorganisir dan bermain sendiri-sendiri. Bareskrim membeberkan, periode Januari-Februari, ada 26 orang yang ditangkap lantaran menyebar berita palsu dan ujaran kebencian yang meresahkan. Sebanyak 18 tersangka di antaranya, sudah diumumkan ke publik. Sedangkan, delapan lainnya masih dalam pemeriksaan lantaran diduga memiliki sistem serupa Saracen.

Kasubdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Irwan Anwar menyatakan, 18 tersangka berita palsu ditangkap di berbagai daerah. Sebanyak enam tersangka ditangkap sepanjang Januari, sedangkan ada 12 tersangka ditangkap pada Februari. 

Uniknya, mayoritas tersangka yang ditangkap lantaran mengunggah konten diduga berita palsu sekaligus bernada penghinaan terhadal Presiden Joko Widodo dan partainya, PDI Perjuangan. Tercatat ada tujuh tersangka yang berkaitan dengan Jokowi dan PDI Perjuangan. Sisanya, berkaitan dengan berita palsu terkait simbol keagamaan, SARA, anggota DPR, juga isu Partai Komunis Indonesia (PKI).

Berikut rincian kasus hoaks yang diungkap di awal 2018:

Januari

Seseorang atas nama Zainal ditangkap di Pati, Jawa Tengah, atas kasus konten medsos diduga pencemaran dan berbau SARA. Ia ditahan akibat konten berbunyi: 'Cukup sudah kita dibohongi, akhiri semua dusta dan tipu-tipu. Janji-janji semanis madu. Namun semuanya hanya semu. Kami telah tertipu. Sosok wong ndeso dan merakyat tapi tak berpihak kepada nasib rakyat. Cukup sudah!".

Lalu, Suhardi Winata, ditangkap di Bandung, Jawa Barat. Ia dicokok atas kasus dugaan penghinaan akibat konten yang berbunyi: 'Islam dipelintir oleh Muhammad agar kelihatan baik. Lalu dipelintir lagi oleh muslim. Penyakit yang sama yang diderita oleh pelaku kejahatan dan korbannya. Dalam ilmu psikologi ini apa namanya?'.

Berikutnya, Edi Efendi, ditangkap Bareskrim di Bekasi, Jawa Barat. Ia ditangkap akibat konten yang diunggah berbunyi: 'Awas bahaya laten Ngapusi. Sudah pasti sekali berbohong seterusnya akan tetap berbohong. Janji kampanye Jokowi yang bohong: buy back Indosat, tidak bagi-bagi kekuasaan, tidak menaikkan BBM, tidak impor pangan, ciptakan mobil nasional, persulit investasi asing, tidak mencabut subsidi, tidak akan utang lagi dan stop mobil murah'. 

Lalu, ada juga nama Hurry Rauf yang ditangkap di Jakarta Timur atas kasus pencemaran nama baik dan berita bohong tentang anggota DPR, Akbar Faisal.

Kemudian, Achmad Basrofi ditangkap di Solo, Jawa Tengah akibat konten yang diunggah: 'Tembak mati Jokowi sampai darah keturunannya memakai mandat utama patriot kepahlawanan, para pahlawan dan para pejuang bangsa dan NKRI sah dan mutlak'.

Marlon Purba, ditangkap di Medan, Sumatera Utara, atas kasus penghinaan dan SARA akibat konten yang diunggah: 'Jangan bela-bela mata sipit yang anjing itu', dan 'Orang Medan tidak perlu orang Papua'. 

Februari

Seseorang atas nama Gunawan ditangkap di Pulogadung, Jakarta Timur atas kasus penghinaan berbau SARA. Ia mengunggah konten: 'Sebenarnya bangkai satu itu tidak perlu disolati. Hidupnya saja sudah repot, sudah jadi bangkai juga ngerepotin'. 

Lalu, Ashadu Amrin, ditangkap di Pondok Gede, Jakarta Timur, atas kasus penghinaan dan pencemaran nama baik Presiden. Konten yang diunggah: 'Saat ulama diserang dan dibunuh, dia diam dan cuek saja. Giliran gereja yang diserang, dia dengan sigap menjenguk gereja tersebut. Mengapa begitu? Sebab kalau ke gereja, dia dikasih amplop'.

Berikutnya, Ashari Usman, ditangkap di Medan, Sumatera Utara atas kasus pencemaran nama baik akibat konten yang diunggah: 'Mahkamah Konstitusi: Untuk rakyat atau untuk kaum LGBT?', dan 'Manuver Jokowi: Meremehkan Golkar, meremehkan PDI-P'. 

Kemudian, Dedi Iswandi, ditangkap di Cilegon, Banten, atas kasus SARA dan pencemaran nama baik. Konten yang diunggah Dedi yakni: 'Usir keturunan Cina dari Indonesia demi kenyamanan dan toleransi, dan 'PDI menyetujui suara adzan ditiadakan di Indonesia'.

Selanjutnya, Yadi Hidayat dan Sukandi, ditangkap di Garut, Jawa Barat atas kasus berita bohong. Keduanya mengunggah konten: 'PKI bangkit, penculikan ulama (hilangnya seorang ustad di daerah Cimuncang, Garut)'. 

Lalu, Bambang Kiswotomo, Wawan Setia Permana, Wawan Kandar dan Tusni Yadi, ditangkap atas kasus penghinaan berbau SARA. Konten yang diunggah mereka berbunyi: 'Mayoritas Cina itu memang babi, bahkan Cina cacat mau mati di kursi roda dan pakai pampers pun ikut nyoblos juga semua demi menguasai NKRI'.  

Ada juga nama Yayi Haidar Aqua, yang ditangkap di Rangkas Bitung, Banten. Guru SMA itu dicokok atas kasus SARA dan pencemaran nama baik akibat konten yang diunggah: '15 juta anggota PKI dipersenjatai untuk bantai ulama dan umat Islam". 

Terakhir, seseorang atas nama Sandi Ferdian, yang ditangkap di Lampung atas kasus berita bohong. Ia diduga menebar berita palsu lewat konten yang diunggah berisi: 'Megawati minta pemerintah tiadakan adzan di masjid karena suaranya berisik'.

Heboh hoaks kali ini beriringan pula dengan maraknya kasus penyerangan simbol keagamaan. Kabareskrim Komjen Pol Ari Dono menduga kuat ada pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan situasi dan coba menggalang opini kalau rentetan peristiwa itu adalah terencana dan sistematis. Padahal, Ari menegaskan, sejauh ini hasil penyelidikan kasus-kasus yang berkaitan dengan simbol keagamaan, berdiri sendiri, dan murni kriminal. Beberapa malah akibat kesalahpahaman yang terjadi.

Ari justru menyebut, hasil penyelidikan menunjukkan penyebaran hoaks lah yang terencana dan sistematis. Tujuannya, untuk membuat kekacauan.

“Misalnya saja, dari media sosial. Diketahui ada puluhan ribu artikel pembahasan yang membahas dan berkorelasi dengan permasalahan penyerangan ustaz, ulama dan tokoh agama. Kemudian para aktor itu mengaitkannya dengan isu kebangkitan PKI serta lainnya. Tujuannya jelas, membuat kegaduhan dan kekacauan dengan hoaks," kata Ari Dono.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR