BANDUNG (Lampost.co)--Karena berita bohong atau hoaks adalah perbuatan keji atau faahisyah, ribuan santri menyatakan perang terhadap hoaks dan menyerukan pentingnya menghadirkan politik kejujuran.

Seruan itu dibacakan KH Ahmad Fauzi Imron saat momen Haul Akbar KHAli Imron Faqih, di Ponpes Al-Istiqomah Pacet Bandung Jabar, Minggu (5/1/2019), di hadapan Direktur Sukarelawan TKN Jokowi Amin, Maman Imanulhaq.



Memelintir informasi bohong untuk tujuan politis atau hoaks, kata Ayi, adalah perbuatan keji yang mengotori akal sehat, merusak tatanan demokrasi dan mengancam nilai kemanusiaan.

Tindakan hoaks seperti yang dilakukan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief dan Oknum Pengurus MUI Teungku Dzulkarnen akan memunculkan fitnah besar yang mengakibatkan kecemasan, kebencian, dan permusuhan di tengah masyarakat.  

Karena itu, para santri meminta para pelaku hoax dihukum seberat-beratnya. Mereka juga meminta semua elite politik dan tokoh masyarakat untuk mengedepankan politik kejujuran.

Maman Imanulhaq sangat mengapresiasi seruan itu. Ia mengutip Alquran Surah An-Nur Ayat 19, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita buruk dan keji ini tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, maka bagi mereka ada azab yang pedih di duniakah atau di akhirat”.

Maman memberi penjelasan beberapa ciri hoaks, di antaranya sumber berita tidak jelas, tidak berdasarkan data dan fakta, menyudutkan salah satu pihak, bermuatan fanatisme dan menghina pemimpin dan alat negara seperti presiden, TNI, dan Polri.

Maraknya hoaks dan fitnah, terutama yang ditujukan kepada Jokowi, mendorong Maman dan Cyber Tropper Direktorat Sukarelawan TKN Jokowi Amin melakukan edukasi politik kepada generasi milenial pesantren di 10 provinsi yang jadi battle ground, termasuk di antaranya Banten, DKI, dan Jabar.

Maman meminta semua santri untuk melawan hoaks dan terus melakukan check and recheck sebelum menyebarkan sebuah berita.

“Sejak awal, Pak Jokowi meminta kami di TKN dan seluruh sukarelawan untuk mengedepankan kampanye yang cerdas, gembira, dan jujur. Indonesia butuh pemimpin yang sederhana, jujur, dan optimistis, jelas program dan prestasinya," tegas Maman.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR