KEMBALI mengenai hoaks atau fake news, tetapi kali ini saya sedikit sandingkan dengan politik, pilkada, pemilu, partai politik, dan sebagainya. Kapolri Jenderal Tito Karnavian beberapa waktu lalu menyatakan perkara atau proses hukum yang menjerat salah satu kandidat calon kepala daerah dalam pilkada tahun ini ditunda dulu. Namun, apakah kebijakan Kapolri itu disetujui atau tidak, saya belum tahu, karena masih dalam pembahasan juga dengan DPR serta KPK.
Langkah yang diambil Kapolri itu saya rasa cukup bijak dan bisa juga aman. Sebab, berdasarkan informasi yang saya dapat dari berbagai sumber, langkah tersebut dilakukan agar kejadian Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu tidak terjadi. Kita tahu betapa riuh dan ramainya Pilkada DKI Jakarta waktu itu, isu SARA pun muncul. Dan, yang pasti berita-berita hoaks beterbangan di dunia maya.
Isu-isu hoaks yang ada di media sosial ini pun menambah ramai dan membuncahnya Pilkada DKI Jakarta, seolah-olah Ibu Kota berguncang dengan berita-berita hoaks tentang Pilkada DKI Jakarta tersebut, yang belum tentu kebenarannya. Nah, berita-berita hoaks itu pun diterima begitu cepat oleh masyarakat dan pastinya menjadi opini masyarakat itu sendiri, opini publik berbau politik mencuat.
Oleh sebab itu, mungkin ada benarnya kebijakan Kapolri tersebut agar daerah yang melaksanakan pilkada tidak gaduh seperti di Pilkada Jakarta waktu itu. Tahun ini akan ada 171 daerah yang melaksanakan pilkada, perinciannya ada 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten.
Termasuk Lampung yang akan menggelar pemilihan gubernur serta pemilihan bupati di Kabupaten Tanggamus dan Lampung Utara. Pada Pilgub Lampung ada empat pasangan calon, di Pilkada Tanggamus dua calon, dan Lampung Utara ada tiga pasangan calon.
Semoga pilkada di Lampung aman-aman saja, tidak seperti di Jakarta. Sebab, kalau gaduh akan berdampak pada semua segi, termasuk SARA. Selain itu, diharapkan agar hoaks-hoaks yang menyudutkan salah satu calon pada pilkada tidak terjadi di Provinsi Lampung yang kita cintai ini. Kekalau wawai gawoh.


 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR