PADA penghujung Ramadan, tibalah pertemuan dengan puncak pelaksanaan ibadah puasa, yakni Idulfitri. Ditinjau dari perspektif etimologi Idulfitri berasal dari dua kata, yaitu ‘id’ dan ‘fithr’. Kata ‘id memiliki akar kata ‘aada – ya’uudu yang bermakna kembali. Adapun fithr memiliki makna ganda, yaitu fithr bermakna buka puasa dan fithr bermakna suci.

Ada juga filosofi Jawa menyebut Idulfitri sebagai Lebaran yang bermakna lebar-lebur-luber-labur. Lebar yaitu selesai dari menjalankan misi penting Ramadan yakni ibadah puasa. Lebur artinya terleburnya atau terhapusnya segala dosa yang dimiliki setelah berpuasa. Kemudian, luber yaitu melimpahnya pahala yang didapat dari Ramadan yang di dalamnya terdapat malam lailatulkadar. Selanjutnya, labur yaitu putih bersih kembali suci seperti bahan kapur untuk mengecat dinding.



Melengkapi kembalinya suci atas dosa kepada Sang Khalik, Idulfitri juga merupakan momen yang tepat untuk saling memaafkan dosa antarsesama. Salah satu ungkapan yang paling populer di masyarakat terkait permohonan maaf adalah “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin”. Ucapan itu merupakan untaian doa untuk mendoakan sesama umat Islam agar senantiasa minal aidin, yaitu termasuk orang yang kembali. Kembali di sini adalah kembali suci seperti bayi yang terlahir kembali di dunia.

Kemudian, wal faizin yaitu juga termasuk orang-orang yang beruntung karena telah berhasil meraih predikat takwa yang merupakan tujuan utama dari ibadah puasa di bulan Ramadan. Ungkapan tersebut dilengkapi dengan permohonan maaf yang berasal dari bahasa Arab, al-afwu, yang bermakna menghapus. Sebab, pada dasarnya memaafkan adalah menghapus kotoran di hati dan tidak bisa dikatakan memaafkan jika masih ada kotoran seperti dendam dan merasa paling benar di dalam hati.

 

Memaksimalkan Silaturahmi

Semestinya pemaknaan Idulfitri diwujudkan secara positif seperti melakukan silaturahmi sebagai wadah pembebasan diri dari dosa sesama manusia. Silaturahmi dengan saling berkunjung juga haruslah tidak dilakukan sebagai kegiatan formalitas semata, tetapi harus mampu menghasilkan kualitas silaturahmi yang baik. Apalagi hanya dilakukan dengan mengandalkan teknologi, seperti media sosial dan sejenisnya. Selagi ada kesempatan dan kemampuan untuk saling bertemu, silaturahmi fisik lebih utama dilakukan. Rasulullah juga mengingatkan pentingnya silaturahmi dari sabda yang diriwayatkan oleh Imam Daud dan Tirmidzi.

Dengan silaturahmi tanpa sekat diwarnai suasana semangat dan keikhlasan berzakat serta bersedekah akan membuat suasana ceria dan kembali menjadi segar. Perbedaan status sosial yang sebelumnya cenderung dikedepankan akan terbuyarkan dan lebur menjadi kesetaraan dan kebersamaan.

Setelah kembalinya seorang muslim kepada fitrahnya, keistikamahan dalam beragama akan makin kuat. Ketauhidan dengan keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan dan merupakan tempat memohon akan makin terpatri dalam jiwa. Standar moral yang terlihat setelah meraih kesucian di Idulfitri adalah komitmen yang kuat dalam keimanan kepada Allah sekaligus keteguhan dan keistikamahan dalam menjalankan segala ajaran atau nilai-nilai agama merupakan perintah dari Allah swt dan Rasulullah saw.

Komitmen yang dimiliki ini akan menjadi energi dan stimulus tersendiri untuk senantiasa bersemangat dan ikhlas dalam pengabdian kepada segala bentuk peraturan agama yang menjadi kewajiban kita untuk melaksanakannya. Hal itu juga ditegaskan oleh Allah dalam QS Al-Jatsiyah: 18, "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu). Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui".

Selain komitmen mengamalkan perintah Allah, ketakwaan kepada Allah pun akan terlihat nyata dalam kehidupan dengan lebih tekun melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Idulfitri akan menjadi starting point (awal) untuk lebih meningkatkan semangat spiritualitas dan memberikan kesadaran untuk menjauhi segala bentuk perbuatan yang termasuk kategori dosa.

 

Agama Kasih Sayang

Momen Idulitri juga harus dimanfaatkan sebagai wadah muhasabah kondisi diri, umat, dan bangsa khususnya tanah air Indonesia. Tidak menutup mata bahwa akhir-akhir ini Indonesia menghadapi berbagai cobaan disintegrasi bangsa melalui sikap intoleran dan anti kebinekaan. Banyak yang memaksakan kehendak melalui cara-cara yang ekstrem dan merasa prinsipnyalah yang paling benar. Banyak yang dengan gampangnya menuduh orang lain sesat bahkan kafir.

Kesadaran dan pemahaman mendasar yang perlu ditanamkan adalah bahwa agama Islam adalah agama kasih sayang yang hadir memberikan kesejukan dan kesejahteraan bagi seluruh alam. Allah berfirman: “Dan tidak saya utus Engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam”. (QS Al Anbiya: 107)

Idulfitri harus mampu menjadi refleksi melihat sejarah bahwa kekuatan Islam tidak didapatkan dengan materi dunia atau sejenisnya, tetapi dapat diraih dengan kekuatan untuk mewujudkan semangat persatuan dan kesatuan di tengah perbedaan. Ukhuwah wathaniyah harus dijunjung tinggi dengan kesadaran dan keikhlasan bahwa kita adalah bersaudara dengan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa.

Idulfitri harus mampu menyadarkan dan membuka mata bahwa hidup di negeri yang besar dengan ribuan pulau dengan kekayaan alam yang melimpah merupakan anugerah sekaligus amanat dari Allah. Berbagai suku dan agama hidup di negeri khatulistiwa ini yang merupakan sunatullah (realitas) dan harus terus dijaga agar tidak terjadi perselisihan karena kita memang sedang menjaga amanat. Jangan sampai berkhianat.

Bangsa yang memiliki peradaban luhur mesti memiliki fondasi keyakinan, jiwa dan akhlak yang kuat. Kondisi perekonomian yang kurang baik merupakan imbas dari lemahnya spiritualitas dan etos kerja serta pesimisme bangsa. Oleh karena itu, momentum Idulfitri harus mampu membangkitkan optimisme untuk berjuang agar kehidupan yang akan datang lebih baik lagi.

Idulfitri mesti membawa angin perubahan yang bermakna terhadap upaya menjadikan Indonesia bangkit dan melahirkan sikap solidaritas sosial yang tinggi dalam berjuang. Idulfitri harus berhasil menghasilkan jiwa-jiwa yang siap berjuang bagi kemaslahatan umat dan bangsa karena memang membangun bangsa tidak akan berhasil jika tidak ada orang-orang yang rela berjuang dan berkorban.

Idulfitri adalah momen penting untuk memberikan kesadaran akan pentingnya elemen bangsa bertekad dan berprinsip untuk ikut andil secara aktif membangun bangsa. Semoga kita mampu mewujudkan pesan Ramadan dan Idulfitri dalam kehidupan selanjutnya. Merangkai kasih sayang mewujudkan harmoni kehidupan agar tercipta peradaban dunia sesuai dengan misi Islam rahmatan lil alamin.  Wallahualam.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR