BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Ratusan pasang mata tiba-tiba terpaku, semua mengarah ke sosok pria berbadan besar. Dengan menggunakan baju berwarna merah, celana panjang warna krem, dan penutup kepala (bandana) berlambang bendera negeri Paman Sam, ia berjalan menaiki panggung dan berdiri di mimbar dari bahan kayu berwarna cokelat, Senin (23/10/2017) siang.
"Saya bingung di sini mau ngomong apa, tapi saya diutus ke sini mewakili yang lain saya berani-berani saja, tanpa teks tanpa ngafal, mohon maaf kalau saya salah-salah ngomong Pak Polisi, kalau tembak-tembaklah saya, kalau mau dipenjara enggak apa-apa, tapi dua hari saja," kata pria itu dengan intonasi suaranya serius.
Namun, Hanafi (41), nama pria paruh baya itu, pun mulai pandai bercuap-cuap tanpa teks, menceritakan yang terjadi pada hidupnya. Satu per satu kehidupannya ia beberkan di depan Kapolda Lampung Inspektur Jenderal Suroso Hadi Siswoyo, Wakapolda Lampung Brigjen Agensta Romano Yoyo, Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal, dan juga orang nomor satu di Bumi Andan Jejama Dendi Ramadhona, dan ratusan pasang mata yang memenuhi Balai Desa Kejadian, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran.
Dunia hitam sudah ia jajaki sejak muda, berawal keinginannya memiliki uang lebih, tapi kemampuan orang tuanya yang tak memadai, ia nekat terjun dalam dunia kriminal. Empat kali bapak empat anak itu merasakan dinginnya jeruji besi.
"Saya sudah berhenti sekolah sejak SMA kelas XI. Kami dulu di sini enggak ada pilihan, kalau mau hidup ya nyopet, nodong, dan jualan narkoba. Saya minta uang sama emak saya enggak dikasih, minta sama bapak malu, mau beli rokok enggak ada duit, makanya ya inilah saya," kata dia.
Dia mengaku pengedar narkoba tunggal di desa tersebut. Ia berjanji bersama rekan-rekannya akan hijrah ke lembaran baru, meninggalkan semua kehidupan kelam mereka semasa menjajakan barang haram tersebut.
Namun, Hanafi bersama 58 mantan bandar dan kurir narkoba yang kini bergabung pada satgas zona bebas narkoba di Desa Kejadian dan Negararatu Wates, Tegineneng, berharap ada pekerjaan tetap bagi mereka. "Berikan kami loka (pekerjaan, red), atau minimal ada jalan lain untuk kami," ujarnya.
Usai melepaskan keluh kesah dan emosinya, sekitar 10 meter dari mimbar, tangis dua perempuan, yakni Ibu Hanafi dan istrinya, meledak tak kuasa mendengar curahan hati Hanafi yang langsung menyambangi keduanya.

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR