UMAT Islam sudah memasuki bulan Muharam, yang berarti meninggalkan tahun-tahun yang lalu dan melangkah ke tahun yang baru, yakni tahun 1440 Hijriah. Apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan pada tahun yang akan datang? Tentu, umat Islam harus selalu melakukan introspeksi diri, evaluasi, dan bermuhasabah, yaitu dengan senantiasa mengingat dan menghitung-hitung akan dosa-dosa, kesalahan, kekurangan, dan kelemahan demi menatap masa depan yang lebih baik.

Dalam suasana Tahun Baru Islam ini, tentunya harus terus meningkatkan pengabdian dan ibadah kepada Allah swt serta meningkatkan amal kebaikan terhadap sesama manusia. Apabila pada tahun-tahun yang lalu kita masih banyak melakukan berbagai kekurangan, pada tahun ini perlu kejar kekurangan-kekurangan itu dengan semangat memperbaiki diri menuju kesempurnaan. Jika pada masa-masa yang lalu masih banyak kemaksiatan, kita ganti kemaksiatan-kemaksiatan itu dengan semangat memperbanyak amal kebaikan.



Memanfaatkan Umur

Kapan kita akan memperbaiki diri kalau tidak dari sekarang. Pantaskah kita menunda kesempatan, sementara kita tidak tahu kapan kehidupan di dunia ini akan berakhir. Ingat, Allah tidak menjadikan kehidupan di dunia ini abadi.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Anbiya’ Ayat 34—35, yang artinya, “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad). Maka, jika kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan, hanya kepada Kamilah kamu kembali.”

Selain itu, juga diterangkan dalam Surah Al-A’raf Ayat 34, yang artinya, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya.”

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, jelaslah bahwa umur kita masing-masing telah ditentukan ajalnya. Ini artinya umur kita bukanlah semakin bertambah, melainkan dari tahun ke tahun umur kita akan semakin berkurang. Untuk itu, marilah kita isi kesempatan hidup ini dengan hal-hal yang lebih baik dengan senantiasa memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah swt.

Momen Perubahan

Sehubungan dengan hal ini, Umar Bin Khattab sebagai pencetus lahirnya Tahun Hijriah sebagai Tahun Baru Islam dalam makalahnya menjelaskan untuk mengenang masa lalu dan menyambut tahun baru, ada dua hal yang perlu perhatikan.

Pertama, lupakan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan pada masa yang lalu. Sebab, melupakan kebaikan-kebaikan pada masa yang lalu akan menjadi motivasi bagi kita untuk bersikap rendah hati dan tidak sombong. Kedua, ingat dosa-dosa yang pernah kita lakukan pada masa yang lalu. Sebab, mengingat dosa-dosa pada masa yang lalu akan menjadi motivasi bagi kita untuk tetap memperbaiki diri. 

Bahkan, dalam kitab Minhajul Muta’allim disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Tanda-tanda kecelakaan itu ada empat. Pertama, melupakan dosa-dosa masa yang lalu, padahal dosa-dosa itu masih tetap tersimpan di sisi Allah swt. Kedua, mengingat kebaikan-kebaikan masa yang lalu, padahal siapa pun tidak ada yang tahu apakah kebaikan-kebaikan itu diterima ataukah ditolak. Ketiga, memandang kepada orang yang lebih unggul dalam urusan dunia, padahal kehidupan dunia hanyalah sementara dan permainan belaka. Keempat, memandang kepada orang yang lebih rendah dalam urusan agama, padahal agama itu lebih penting sebagai bekal menuju akhirat.

Berdasarkan kedua hadis tersebut, dapat dipahami kita harus pandai menjadikan masa lalu sebagai sarana (barometer) untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Sebab, sesungguhnya hakikat tahun baru adalah bagaimana kita mampu melakukan perubahan, yakni dari perilaku yang tidak baik menjadi perilaku yang lebih baik, dari ekonomi yang berkekurangan menjadi ekonomi yang berkecukupan, dari pendidikan (pengetahuan) yang rendah menjadi pendidikan (pengetahuan) yang lebih tinggi, dari tubuh yang sakit-sakitan menjadi tubuh yang sehat walafiat, dari iman yang tipis menjadi iman yang lebih tebal, dari yang bermalas-malasan beribadah menjadi semangat beribadah, dan sebagainya.

Berkenaan dengan hal ini, Allah swt telah berfirman, “Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka yang akan mengubahnya sendiri.” Artinya, baik-tidaknya masa depan seseorang tidak terlepas dari dirinya sendiri, sehingga setiap orang harus mampu melakukan perubahan yang lebih baik.

Membekali Diri

Untuk itu, apalah artinya kita diberi umur yang panjang kalau hanya kita gunakan untuk kemaksiatan, kejahatan, dan kezaliman. Ingat, Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya.” Dengan demikian, jelaslah kita harus pandai memanfaatkan umur yang telah dianugerahkan kepada kita dengan sebaik-baiknya. Sebab, umur merupakan rahasia Allah swt; panjang-pendeknya umur telah ditentukan oleh Allah swt.

Oleh karena itu, mari kita sambut dan isi Tahun Baru Islam ini dengan senantiasa membekali diri demi kebahagiaan hidup yang lebih baik. Janganlah sia-siakan nikmat umur kita, yakni dengan senantiasa meningkatkan ibadah dan takwa. Kita isi sepanjang umur dengan perbuatan terpuji, baik amaliah yang berhubungan langsung dengan Allah (hablun minallah) maupun amaliah yang berhubungan dengan sesamana manusia (hablun minannas).

Mari kita sambut tahun baru ini dengan rasa syukur dan mengharap taufik, hidayah, serta inayah Allah swt agar kita senantiasa tetap sesuai dengan tuntunan yang diridainya.

Kita jadikan tahun baru ini sebagai neraca perbandingan amal usaha. Renungkan kembali lembaran amal usaha tahun yang lalu. Kita koreksi kekurangan dan kesalahan dengan meningkatkan serta memperbaiki diri. Jadikan tahun baru ini sebagai titik tolak perubahan dan peningkatan amal kebaikan serta sebagai akhir dan penyesalan segala tindakan yang salah. Wallahualam bissawab.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR