HIDUP di dunia ini harus saling berdampingan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungannya. Makhluk yang tampak terlihat bergerak aktif, seperti manusia dan hewan, mesti hidup berdampingan. Alasan ini, yang menjadi dasar, bahwa keduanya saling membutuhkan alias simbiosis mutualisme.

Namun, fenomena yang terjadi kini tidak demikian. Manusia yang memiliki kekuatan melah membuat hidup hewan-hewan itu terusik. Sebaliknya, saat terusik, hewan-hewan juga bisa membuat warga sekitar resah. Itu yang terjadi di sekitar warga yang berbatasan dengan hutan atau taman nasional.



Kalau hewan di darat, manusia dan hewan berinteraksi langsung sehingga bentrok antara manusia dan gajah bisa kita lihat. Tapi, bagaimana dengan hewan di laut? Lihatlah, bagaimana seekor paus mememakan plastik karena laut sudah mulai tercemar sampah oleh ulah manusia.

Organisasi dunia menaruh perhatian lebih tentang hewan-hewan, baik itu di darat maupun di laut. Langkah kecil untuk pelestarian lingkungan di antaranya penggunaan sampah plastik sebisa mungkin dihindari sebagai kantung untuk konsumsi manusia. Lalu, hutan-hutan jangan dirusak supaya satwa masih memiliki ekosistem yang komplet.

Ada yang informasi unik bahwa anjing merupakan bentuk modifikasi dari saling silang gen serigala yang dianggap jinak selama ratusan tahun. Jinak dalam hal ini maksudnya bisa dipelihara oleh manusia sehingga keduanya saling berdampingan, misalnya manusia memelihara anjing untuk hobi atau anjing sebagai penjaga suatu bangunan, rumah, atau sebagai pelacak perburuan.

Lampung punya situs yang diakui sebagai warisan dunia oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), yakni Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Entah ada berapa ragam satwa dan tumbuhan liar yang hidup di sana yang wajib untuk dipelihara supaya tidak punah.

Apa akibatnya bila hutan di TNBBS rusak? Hewan-hewan berukuran besar bakal kehilangan rumahnya, burung-burung tak memiliki tempat bertengger, siamang tak punya pohon untuk bergantungan, dan sebagainya.

Manusia sebagai pemimpin di dunia ini mesti tahu tiga faktor ini, yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan. Jadi, kebijakan untuk menumbuhkan ekonomi perlu mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan. Jangan sampai karena ekonomi ingin bangkit, dampak sosial dan lingkungan menjadi terabaikan.

Alam dan lingkungan tampaknya menarik untuk dipelajari. Sebagai jurnalis, sudah semestinya perlu peduli dengan lingkungan, bukan hanya lembaga konservasi dan akademisi.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR