KALIANDA (lampost.co) -- KEMARAU berkepanjangan membuat hasil panen padi petani di sejumlah kecamatan Kabupaten Lampung Selatan pada musim gadu tahun 2018 ini turun dratis. Bahkan tidak sedikit petani yang gagal panen.

Seperti di Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, hasil panen musim ini turun hingga 60%.
“Penyebabnya ialah banyak tanaman padi yang hasilnya kosong karena kurang pasokan air. Sehingga hasil panen anjlok,” kata Bambang, seorang petani yang sedang panen padi di desa Bangunrejo, kecamatan Ketapang, Kamis (6/9/2018).



Musim rendeng lalu, ujarnya, lahan seluas seperempat hektar miliknya menghasilkan 42 karung ukuran 50 kilogram per karung. Namun panen gadu ini hanya mendapatkan 18 karung. “Hasil panen karena kekurangan air. Beruntung maaih bisa nyedot dari sumur bor. Kalau gak dapat bantuan air bisa gagal panen,” kata dia.

Turunnya hasil panen juga terpantau di sepanjang jalan lintas pantai timur kecamatan Bakauheni dan Ketapang. Bahkan lebih banyak yang mengalami gagal panen. 

“Hasil panen musim gadu ini hancur mas. Saya juga biasanya mendapatkan 3 ton, tapi sekarang cuma dapat 7 kuintal dari luas sawah setengah hektar,” kata Ratimin petani yang sedang panen padi di jalinpantim desa Ketapang, kecamatan Ketapang.

Merosotnya produksi padi berdampak pada harga gabah kering panen yang bertahan tinggi. Berdasarkan keterangan dari pengepul padi di wilayah kecamatan Ketapang dan Sragi, Surkati (48), gabah kering panen (GKP) jenis muncul (padi pendek) seharga Rp 4.400-4500/kg, sedangkan GKP jenis ciherang dan IR 64 (padi panjang) harganya lebih tinggi yakni Rp 5.000/kg.

“Meski saat ini lagi musim panen gadu, harga gabah terbilang tinggi. Bahkan untuk padi panjang yang kering giling mencapai Rp 5.500/kg,” kata Surkati. 

EDITOR

Firman Luqmanulhakim

TAGS


KOMENTAR