SAAT ini belum ada yang bisa memprediksi gempa, kapan dan lokasinya di mana. Untuk itu, para peneliti di Harvard University memulai studi untuk memprediksi gempa susulan lewat mengembangkan artificial intelligence (AI). Diharapkan mesin kecerdasan buatan itu bisa memprediksi lebih tepat lokasinya guna mengurangi dampak gempa susulan yang sering lebih merusak.

Sekelompok ahli ilmuwan itu meneliti apa yang mereka sebut dengan program pembelajaran mendalam. Mereka pelajari puluhan ribu data terkait gempa bumi dan gempa susulan untuk melihat apakah mereka bisa memperbaiki prediksi yang ada sekarang.



"Dengan menggunakan pendekatan yang ada saat ini, peramalan lokasi gempa susulan memiliki ketepatan sekitar tiga persen pada seluruh set data pengujian. Pendekatan jaringan kami memiliki presisi sekitar enam persen," kata Phoebe DeVries, pekerja di program pascadoktor Harvard dikutip Kompas-sains dari Deutsche Welle (31/8).

"Pendekatan ini lebih akurat karena dikembangkan tanpa adanya keyakinan di mana gempa susulan akan terjadi," tambah DeVries.

Para peneliti menggunakan jenis kecerdasan buatan yang dimodelkan pada cara kerja otak manusia dalam membuat koneksi.

"Program ini memungkinkan para peneliti untuk memetakan kaitan antara karakteristik gempa bumi besar—bentuk patahan, seberapa banyak bagian yang tergelincir, bagaimana hal itu menimbulkan tekanan pada bumi—dan di mana gempa susulan terjadi," ujar Brendan Meade, guru besar ilmu bumi dan planet di Havard.

Meski terlihat memiliki hasil positif, Gregory Beroza, guru besar geofisika di Universitas Stanford, memperingatkan, "Mungkin terlalu dini untuk menyimpulkan pemahaman fisik yang memicu gempa susulan".

Dalam artikel yang diterbitkan di jurnal Nature, Beroza mengatakan jika penelitian tersebut hanya berfokus pada satu set perubahan yang disebabkan oleh gempa bumi yang memengaruhi terjadinya tempat gempa susulan. "Alasan lain untuk berhati-hati adalah bahwa analisis penulis bergantung pada faktor-faktor yang penuh ketidakpastian," tulis Beroza.

Menaggapi kritik tersebut, DeVries mengakui memang masih ada faktor tambahan yang bisa memengaruhi lokasi terjadinya gempa susulan. "Masih banyak yang harus dikerjakan lebih lanjut," kata DeVries.

"Kami sangat setuju pekerjaan ini hanyalah tahap awal yang memotivasi, bukan akhir," tambahnya.

Beroza pun sependapat penelitian ini telah membentuk tempat berpijak untuk studi lanjutan. ***

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR