BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Tanah airku Indonesia Jaya, terpatri indah dalam diriku, getarkan dada dan menyatakan akulah Indonesia. Berbeda suku, agama, bahasa Bhinneka Tunggal Ika jiwaku, merah dan putih suci berani, mengalir di darahku. Oh Tuhan, aku bersyukur atas negeri nusantara tercinta. Kuberjuang dengan jiwa dan raga, berkarya bagi nusa dan bangsaku. Semangatkan cinta peduli Indonesia, yang kujaga sepenuh hati.

Lirik tersebut diambil dari syair lagu ciptaan komposer Lampung suku Tionghoa, Trisnowati Josiah (Qiu Mei Hua), yang biasa dipanggil Iwa TJ berjudul Cinta Indonesia, copyright 27 Januari 2019. Jika nilai cinta Indonesia berakar dalam hati seseorang, bisa menjadikan harmonisasi indah dalam kehidupan bermasyarakat dari Sabang sampai Marauke.



Penerbit Lampung Post dalam bukunya Tionghoa Membangun Peradaban Lampung memberikan catatan bahwa suku asli Lampung dan Tionghoa menjadi satu, bersama-sama menciptakan Lampung yang baru. Peradaban dan keberadaan masyarakat Tionghoa yang semakin eksis dan sukses karena didukung keterbukaan masyarakat Lampung. Mereka cinta Indonesia. Etnis Tionghoa memiliki ikatan kekeluargaan yang erat. Kebiasaan tolong-menolong menjadi kultur kental penandanya.

Etnis Tionghoa adalah etnis yang berperan hampir di semua bidang. Kehadiran masyarakat Tionghoa juga jadi perekat keharmonisan tradisi, adat, dan budaya Lampung. Dalam bidang pendidikan, seni, dan budaya, masyarakat Tionghoa terus menjalin keakraban bersama suku lainnya. 

Warga Tionghoa telah menjadi orang Lampung dan melebur dalam pelbagai bidang kehidupan di semua wilayah Lampung. Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Lampung hadir menjadi organisasi ulun Lampung suku Tionghoa yang menjunjung tinggi dan menghargai cinta Indonesia. PSMTI menjadi wadah pemersatu masyarakat Tionghoa, yang bertujuan turut menjaga integritas bangsa sebagai pemersatu NKRI. PSMTI didirikan pada 28 September 1998, beberapa bulan pascareformasi, setelah terjadi kerusuhan rasial.

PSMTI terus-menerus menyuarakan pembauran dan persatuan dan sudah membuahkan hasil. Menkumham Hamid Awaludin menyebut bahwa UU 12/2006 membuat keturunan Tionghoa Indonesia menjadi suku Tionghoa Indonesia.

Tahun Baru Imlek yang kini menjadi hari raya nasional juga hasil perjuangan PSMTI menjadi bagian integral bangsa Indonesia. Dalam realitas sosial kehidupan bersama, manusia memerlukan aturan hidup agar terjalin indah keteraturan sosial.

PSMTI Lampung menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Kepaksian Pernong, yaitu marga adat yang ada di Lampung. Seluruh pengurus dan anggota PSMTI Lampung memiliki ikatan persaudaraan dengan SPDB Pangeran Edward Syah Pernong dan seluruh masyarakat adat Kepaksian Pernong.

Puakhi Pungsu Tionghoa

Tionghoa dan suku asli adalah sama-sama orang Lampung. Kata muakhi berasal dari kata puakhi, artinya saudara kandung dan saudara sepupu dari pihak bapak maupun ibu. Muakhi berarti persaudaraan. Profesor Fauzi Nurdin dalam bukunya Budaya Muakhi mengatakan muakhi sebagai etika sosial yang berlandaskan filsafat hidup Piil Pesenggiri ada relevansinya dengan pembangunan daerah. Muakhi sebagai nilai dan norma dalam budaya lokal merupakan wujud kebudayaan yang bermakna dan berlaku dalam suatu masyarakat, yang pada tahap berikutnya dapat diaktualisasikan dalam tingkah laku yang dapat diamati, dikritisi, dan ditafsirkan.

Suku Tionghoa adalah muakhi dalam masyarakat adat Lampung. Masyarakat adat merupakan kelompok sosial yang berbudaya, memiliki kebiasaan atau tradisi dalam bentuk perbuatan maupun ucapan yang memiliki arti khusus bagi warganya. Puakhi pungsu atau saudara bungsu adalah sebutan penuh kasih sayang, yang dengan tulus diberikan Paduka Yang Mulia Saibatin Puniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Bekhak Kepaksian Pernong bagi masyarakat Tionghoa, yang tergabung dalam keluarga besar PSMTI Lampung.

Sebutan puakhi pungsu atau pungsu Tionghoa menjadi khas dalam ikatan angkon muakhi antara Kerajaan Adat Sekala Bekhak dengan minak muakhi PSMTI. Dengan demikian, masyarakat Tionghoa yang telah diakui secara adat memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan masyarakat adat asli. SPDB Pangeran Edward Syah Pernong dan masyarakat adat menjaga dan melindungi saudara bungsunya dengan kasih.

Masyarakat adat Lampung sebagai saudara tua wajib menjaga, melindungi, dan mengayomi masyarakat Tionghoa yang ada di Lampung, untuk bersama-sama membangun masa depan demi meningkatkan kesejahteraan. Selanjutnya, masyarakat Tionghoa di Lampung kini memiliki “rumah” yang nyaman, aman, dan menenteramkan, yaitu masyarakat adat.

Tentu saja, masyarakat Tionghoa memiliki kewajiban untuk merawat rumah itu baik dengan harta maupun jiwanya, sebagai hanggum janji setia ikok paku. Bila diibaratkan sebuah pohon, tiga filosofi angkon muakhi itu merupakan akar yang kuat menghunjam ke tanah. Pohon akan kuat jika akarnya kuat. Pohon akan memiliki ranting yang kokoh, daun yang rindang, dan buah yang harum bila akar kuat menghunjam. Demikian filosofi angkon muakhi yang disampaikan SPDB Pangeran Edward Syah Pernong.

Mars Paksi Pak Sekala Bekhak

Hari Sumpah Pemuda ke-88 pada 28 Oktober 2016 merupakan momentum indah dan penting bagi suku Tionghoa dan masyarakat adat Sekala Bekhak, yang ditandai dengan peluncuran lagu pemersatu Mars Paksi Pak Sekala Bekhak. Syair lirik lagu Mars Paksi Pak Sekala Brak ditulis SPDB Pangeran Edward Syah Pernong Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23 Kepaksian Pernong, sedangkan nada-nada dan melodi lagu diciptakan oleh Trisnowati Josiah (Iwa TJ), yang juga menjabat sekretaris Pengurus PSMTI Provinsi Lampung periode 2014—2017.

Menurut SPDB, adanya mars ini dapat mempererat silaturahmi antara Sekala Bekhak dan masyarakat Tionghoa. PSMTI Lampung sebagai pemprakarsa silaturahmi penyerahan Mars Paksi Pak Sekala Brak. Acara ini memperkuat harmonisasi bersatunya masyarakat adat Sekala Bekhak dan suku Tionghoa.

Kedua masyarakat kompak dan dengan semangat angkon muakhi mempererat persaudaraan untuk menjaga dua adat istiadat sehangguman. Peluncurannya pada saat hari Sumpah Pemuda sangat bermakna strategis. Keluarga pungsu Tionghoa dan Sekala Bekhak berharap agar semangat persatuan Indonesia tetap terjaga di atas nilai-nilai adat dan budaya.

Paksi Pak Sekala Bekhak ber-Bhinneka Tunggal Ika. Paksi Pak Sekala Brak titisan Yang Mulia. Penegak budaya bangsa merah putih yang tercinta. Sang Bumi Ruwa Jurai Saibatin dan Pepadun. Sang Bumi Ruwa Jurai simbol Lampung nan jaya. Paksi Pak Sekala Bekhak sang pembela Pancasila. Saibatin di Paksi Pak Sultan Yang Satria Mulia. Bangsawan nan bijaksana berkah Tuhan Yang Mahakuasa. Pengokoh persatuan NKRI Jaya. Bahatur punggawa Sekala Bekhak menjaga dengan jiwa raga. Kahut Pernong, Belunguh, Nyerupa, Bejalan Diway perjuangkan kemajuan pertahankan peradaban. Pengokoh persatuan NKRI jaya.

Lirik lagu Mars Paksi Pak Sekala Bekhak mengajak masyarakat umum dan milenial untuk menghormati dan menjunjung kemajemukan yang tidak terkonfrontasi dan mendorong kemajuan dengan tetap menjaga jati diri bangsa. Mars Paksi Pak Sekala Bekhak bisa tumbuhkan semangat cinta Indonesia, melestarikan budaya, serta kearifan lokal.

Harmony of Heritage, warisan harmonisasi budaya suku Tionghoa dan Sekala Bekhak ini dapat menjadi miniatur ikon harmonisasi kehidupan antarsuku di nusantara. Harmonisasi dari gabungan dua kebudayaan, yang direkatkan dengan tali kasih persaudaraan angkon muakhi, sehingga jadi harmonisasi indah. Cinta kasih seangkonan, sekahutan, dan sehangguman yang bersedia sampai terluka bagi yang dikasihi dan disayanginya.

Angkon muakhi jadi hadiah indah untuk cinta Indonesia dan NKRI jaya. Salam hanggum Sekala Bekhak. Gong xi fa cai 2570. Selamat Tahun Baru Imlek 2019. Semoga di Tahun Babi Tanah ini, Tuhan memberkati kita sehat-sehat, lebih sukses, rezeki lancar, dan bahagia dengan hati sukacita bersyukur selalu. Amin.

BERITA LAINNYA


EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR