RATUSAN etnis Tionghoa memenuhi Wihara Amurwa Bhumi Telukbetung saat perayaan Capgome, beberapa waktu lalu. Rona bahagia terekam jelas di wajah mereka yang saling melempar senyum, menyapa, dan bercengkrama sambil menikmati beragam suguhan malam itu.

Ada musik tradisional hingga modern yang ditampilkan, menambah suasana hangat malam itu. Salah satu yang menarik perhatian adalah gambang kromo.



Sekilas, namanya terdengar tidak asing di telinga masyarakat. Namun kenyataannya tidak banyak yang mengetahui orkes paduan gamelan dengan alat musik Tionghoa, yakni gambang kromo yang didatangkan dari Tangerang, Banten.

Musik khas dari Betawi tersebut menambah kemeriahan malam itu. Meski terkesan klasik, gambang kromo menjadi sajian tersendiri bagi penikmat musik Betawi.

Orkes gambang kromo dimainkan oleh 20 orang, masing-masing memainkan alat musik yang berbeda. Paduan serasi tersebut menampilkan alat-alat musik gesek, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan. Selain alat musik, perkawinan dua budaya juga tecermin dari lagu-lagu yang dibawakan.

Musik yang dihasilkan sangat khas. "Gambang kromo punya banyak peminat, tetapi sayangnya minim pemain," kata koordinator gambang kromo, Udin.

Orkestra yang dimainkan mayoritas oleh kaum adam itu menyuguhkan lagu-lagu khas Betawi, seperti Jali-Jali, Surilang, Lenggang Kangkung, dan Sirih Kuning.

Udin menjelaskan perkembangan gambang kromo mengalami pergeseran, terutama pada alat musiknya. Ada penambahan beberapa alat musik pada gambang kromo modern, salah satunya gitar.

"Kalau yang kami mainkan ini adalah gambang kromo klasik, tidak ada penambahan alat musik," ujarnya.

Acara yang dihelat setiap tahun itu menjadi momen berharga bagi warga Tionghoa untuk berkumpul sambil menikmati hiburan orkes gambang kromo. Penonton larut dalam kesyahduan lagu yang diperdengarkan.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR