LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 18 July
7353
LAMPUNG POST | Harga Menurun, Petani Lada Tidak Lagi Makmur (1)
Petani lada memanen lada di Lampung Utara beberapa waktu lalu. Sejak harga menurun petani lada tidak lagi makmur. LAMPUNG POST/DJONI HARTAWAN JAYA

Harga Menurun, Petani Lada Tidak Lagi Makmur (1)

SIANG itu, mendung menggelayuti langit seputaran Desa Matarammarga, Kecamatan Sukadana. Cuaca pada siang itu berpadu dengan wajah pilu Ahmad Fauzi, yang duduk termenung sendirian di teras depan rumahnya, Minggu (16/7/2017).
Gambaran muram tampak begitu jelas memenuhi bidang wajah lelaki paruh baya tersebut. Kekalutan hatinya memikirkan terus menurunnya harga komoditas lada, tak mampu menutupi keresahan hati yang tergambar di wajahnya.
Benaknya terasa diaduk-aduk memikirkan bagaimana dia harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya, belum lagi kebutuhan sekolah putra-putrinya.
Berbagai kebutuhan itu tak bisa ditunda dan harus dipenuhi. Sementara hasil yang diandalkannnya dari menjual lada tak bisa begitu diharapkan. “Entahlah saya bingung, gimana kalau begini, harga lada turun terus, sementara kebutuhan hidup sehari-hari enggak bisa ditunda harus dipenuhi,” kata dia.
Sejurus kemudian terdengar lagi suara berat dari bibir lelaki itu menceritakan perjalan hidupnya yang begitu kental dengan komoditas lada hitam.
Baginya, pohon dan buah lada sudah seperti darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Bagaimana tidak, sebagai anak seorang petani lada, sejak bayi, kanak-kanak, remaja, hingga dewasa, dia memang sangat akrab dengan kegiatan berkebun tanaman rempah-rempah tersebut.
Aroma tanaman serta biji lada yang kulitnya semakin menghitam saat dijemur di halaman rumah begitu akrab dengan hari-hari yang telah dilaluinya.
Bahkan, masih segar dalam ingatannya bagaimana makmurnya kehidupan orang tuanya dan para petani lada lainnya pada era 1970-an, berkat hasil berkebun tanaman rempah-rempah yang dari zaman dahulu selalu menjadi incaran bangsa Eropa tersebut.
Dengan hasil panen lada yang selalu melimpah pada waktu itu, semua keinginan dan kebutuhan hidup petani dengan mudah bisa tercukupi. “Saya masih ingat waktu itu hasil panen lada yang sangat melimpah membuat kehidupan para petaninya menjadi makmur dan sangat berkecukupan, plus bisa menunaikan ibadah haji,” ujarnya.
Karena itu pula, berkebun lada baginya bukan sekadar ikut-ikutan atau hanya meneruskan tradisi turun-temurun, melainkan memang sudah merupakan suatu pilihan. Sebab, berkebun komoditas rempah-rempah itu tampaknya akan tetap memiliki prospek yang cukup baik dan menjanjikan.

LAMPUNG POST
TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv