LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 18 July
7942
RESPONSIVE ADS
LAMPUNG POST | Harga Menurun, Lada Hitam Selangkah Lagi Tinggal Cerita (2)
Lada hasil panen petani di Lampung Timur beberapa waktu yang lalu. LAMPUNG POST/DJONI HARTAWAN JAYA

Harga Menurun, Lada Hitam Selangkah Lagi Tinggal Cerita (2)

AHMAD Fauzi, petani lada asal Desa Matarammarga, Kecamatan Sukadana, Lampung Timur, amat menyadari bahwa masa-masa keemasan atau kejayaan lada hitam mungkin tak akan terulang lagi seperti pada era 1970-an. Namun, setidak-tidaknya berkebun lada masih bisa dijadikan penopang dalam menghidupi keluarganya.
Karena itulah, sejak remaja, menikah, kemudian memiliki keturunan, Fauzi tetap menekuni profesi sebagai petani lada. “Itu sudah merupakan pilihan dan jalan hidup saya, jadi ya saya tekuni,” ujarnya.
Memang diakuinya dalam perjalanannya berkebun lada, apalagi beberapa tahun belakangan, banyak menemui berbagai kendala. Serangan hama kemudian hasil panen menurun, ditambah harga lada yang kerap fluktuatif dan cenderung rendah membuat sebagian petani lada frustrasi.
Sehingga sudah tak terhitung lagi petani lada yang terpaksa banting setir, menjual sebagian lahan mereka dan beralih menanam komoditas lain, seperti singkong, cokelat, dan lain-lain.
Namun, menghadapi gelombang pasang-surut tersebut, Fauzi bersama beberapa rekannya tetap bersabar dan bertahan serta terus mencoba tetap menjadikan komoditas lada sebagai andalan dalam menghidupi keluarga.
Kesabaran dan keteguhan hati dalam bertani lada itu rupanya tidak sia-sia. Apalagi setelah Kabupaten Lamtim didefinitifkan pada 1999. Usaha perkebunan lada rakyat mendapat fokus perhatian tersendiri dari Pemkab Lamtim. Berbagai program dan upaya ditempuh Pemkab Lamtim untuk terus meningkatkan produksi dan kualitas lada para petani.
Perhatian Pemkab tersebut juga mendapat sambutan dan antusias yang cukup tinggi dari para petani lada, dengan secara berangsur-angsur mereka mulai aktif dan giat kembali dalam melaksanakan usaha berkebun lada.
Semangat itu selanjutnya semakin memuncak, manakala Pemkab Lamtim pada 2011 memprogramkan kegiatan dan bertekad untuk mengembalikan kejayaan wilayah Lamtim sebagai daerah penghasil lada hitam berkualitas yang terbesar di tanah Sai Bumi Ruwa Jurai.
Sejak itu, kata Ahmad, selama beberapa tahun komoditas lada hitam yang mereka hasilkan kembali membaik, baik deri segi kualitas maupun harganya sehingga berkebun lada kembali bisa dijadikan andalan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Yang seperti itu sempat kembali kami rasakan selama beberapa tahun,” ujar Ahmad, sambil matanya menerawang jauh.
Namun, beberapa tahun terakhir, lagi-lagi sejumlah kendala menerpa para petani lada, dengan produksi dan kualitas lada hitam yang dihasilkan petani kembali berangsur-angsur menurun. Menurunnya kualitas lada hitam yang dihasilkan petani ini kemudian disusul dengan terus menurunnya harga komoditas tersebut di pasaran.
Dampaknya para petani akhirnya kembali mengalami kesusahan dalam memenuhi kebutuhan hidup. “Gimana enggak susah, hasil panen lada itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga. Hasil panen lada minim ditambah kualitasnya turun dan harganya juga menjadi anjlok,” kata dia.

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE
  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv