LAHAN untuk pemakaman memang menjadi kendala di setiap daerah atau wilayah. Sebab, pertambahan jenazah yang akan dikuburkan, sementara tanah tidak bertambah.

Na ya kidah, mulani makam no dang tikuta balak ga (Iyalah, makanya makam jangan dipagar terlalu besar).



Bahkan di Hongkong, lahan makam pun menjadi masalah. Padahal, di sana lahan hanya diperuntukkan menyimpan guci abu kremasi jenazah. Bahkan, Ketua Asosiasi Bisnis Pemakaman Hong Kong Kwok Hoi Pong menyebut lahan di sana lebih mahal untuk orang mati daripada yang hidup.

Dilansir dari laman Guardian, sebuah ceruk untuk guci pribadi di posisi terbaik dapat berharga hingga HKD 1,8 juta (setara Rp323 juta). Untuk menemukan lahan menyimpan abu semakin menjadi hampir mustahil.

Khepa kidah ana, aga tibatok dipa ke dua say mak lagi no. Wat-wat gawoh (Bagaimana itu, mau ditaruh ke mana jenazah atau abu itu. Ada-ada saja).

Ceruk standar di kolumbarium publik berharga HKD2,800 (Rp5 juta)—tetapi waktu antre lahan itu lebih dari empat tahun.

Mereka yang tidak siap untuk menunggu harus membayar jauh lebih banyak untuk ceruk di kolumbarium milik pribadi—lahan yang tidak lebih besar dari kotak sepatu. Dengan properti hunian paling mahal di Hong Kong yang dijual seharga HKD180 ribu (Rp323,2 juta) per kaki persegi, biayanya lebih mahal untuk menampung orang mati daripada yang hidup.

Ketika ibunya meninggal November lalu, Cecilia Chan, profesor pekerjaan sosial di Universitas Hong Kong, mengatur kremasi dan hamburan abu di tempat yang dikenal secara lokal sebagai “pekuburan hijau”.

Sementara Chan mengatakan pekuburan hijau adalah "salah satu pilihan paling pragmatis di tempat yang padat dan mahal ini", itu bukan alternatif yang populer. "Sejalan dengan kebiasaan tradisional Tiongkok, kami lebih suka menyimpan abu leluhur kami di ceruk di sebuah kolumbarium," kata Kwok.

"Tempat fisik di mana kita dapat memberikan penghormatan, memberikan persembahan, dan menerima berkah. Banyak orang Tiongkok masih sangat konservatif," ujarnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR