LIWA (Lampost.co) -- Harga jual kopi robusta dalam beberapa minggu terakhir di Lampung Barat bertahan antara Rp16 ribu hingga Rp17 ribu per kilogram. Harga tersebut merupakan titik jual terendah dalam lima tahun terakhir.

Merespon hal itu, para petani kabupaten setempat meminta pemerintah untuk turun tangan membatasi impor kopi yang membanjiri Lampung dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini dinilai menjadi faktor utama turunnya harga kopi di petani.



"Di hari kemerdekaan ini, harapan kami tolong Pak Presiden perhatikan nasib kami petani kopi. Kenapa setiap tahun harga terus turun. Tahun ini Rp17 ribu. Ini harga termurah sejak lima tahun terakhir," kata Sumini petani kopi di Kecamatan Batubrak, Sabtu 17 Agustus 2019.

Kata dia, dengan harga kopi yang hanya mencapai Rp17 ribu/kg tidak sebanding dengan hasil dan biaya perawatan, dan juga mahalnya harga kebutuhan pokok.

Hitungannya, lahan satu hektar, dapat 1 ton. Harga Rp17 ribu berarti setahun petani hanya dapat Rp17 juta. Sementara biaya beli pupuk, ngoret dan perawatan sudah lebih dari 5 juta. Sisa Rp12 juta itulah untuk biaya sekolah anak, beli beras, bayar listrik setahun.

“Pak presiden, kalau boleh berharap, permintaan kami tidak muluk-muluk, harga kopi Rp22 ribu saja sudah cukup, supaya bisa nyambung hidup," kata dia.

Terpisah, Sumarlin, pengepul kopi di Pekon Kegeringan Kecamatan Batubrak, membenarkan harga kopi dengan kualitas super Rp17 ribu. "Kita beli dari petani antara Rp16.700 s/d Rp17 ribu/kg. Itu untuk kadar air 20. Karena memang saat ini harga jualnya ke ekportir juga murah," kata dia.

Sumarlin membenarkan harga kopi tahun 2019 tepatnya Agustus ini merupakan harga terendah dalam lima tahun terakhir. Turunnya harga tersebut kata dia salah satu penyebabnya adalah  masuknya kopi impo dari vietnam dalam jumlah yang besar.

“Sehingga kopi yang dihasilnkan petani lokal tidak terjual. Kalau saja impor kopi dari luar negeri dibatasi, kami yakin harga kopi naik kembali ke harga Rp24 ribu/kg," katanya.

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR