BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)---Harga beras di sejumlah pasar di Lampung menyentuh angka Rp13 ribu per kilogramnya. Harga itu jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Di Lampung Timur misalnya, harga beras jenis medium naikn drastis. Setelah pekan lalu dijual Rp9.500/kilogramnya, kini dijual Rp11 ribu hingga Rp12 ribu/kg. Sedangkan jenis premium hingga Rp13.500/kg.

Seorang pedagang beras di Pasar Sekampung, Harto, menyebutkan harga beras kelas medium naik mulai awal 2018. Penyebab kenaikan harga karena berkurangnya pasokan dari pedagang besar akibatnya stok sedikit. "Di berbagai pabrik penggilingan di Lampung Timur sudah sulit ditemukan pasokan beras. Dari pedagang besar juga stoknya sedikit, jadi harga beras naik," kata Harto ditemui di lapaknya, Rabu (10/1/2018).



Sementara itu, di Bandar Lampung, harga beras medium bervariasi hingga tertinggi Rp11.500/kg. Salah satunya di toko kawasan Kemiling, seorang pedagang menjual beras jenis medium bervariasi. Misalnya untuk merek Krisna dijual Rp10.800/kg, cap Kelapa Rp11 ribu, dan Rojolele Rp11.500 ribu/kg. "Emang naik Mas," kata pedagang itu, kemarin.

Padahal pada panen 2017 Lampung mengalami surplus beras 1,6 juta ton, namun harga gabah kering giling (GKP) Rp6.000/kg. Sehingga harga beras medium di pasar menjadi Rp11 ribu/kg. Kepala Bidang Operasional dan Pelayanan Publik sekaligus Ketua Operasi Pasar Joko Tri Septanto mengatakan naiknya harga beras disebabkan kelangkaan stok gabah dan belum masuknya masa panen di berbagai daerah. Untuk itu, pihaknya melaksanakan operasi pasar di berbagai daerah. "Efektivitas operasi pasar kepada konsumen terutama menengah ke bawah atas pilihan beras medium. Sebab, beras medium di pasar tidak ada," kata dia, kemarin.
Operasi beras itu dilakukan bekerja sama dengan pedagang pasar yang langsung menjual kepada konsumen. "Saat ini ada 29 toko di Bandar Lampung dan Metro, stok beras yang disalurkan sesuai dengan permintaan mereka," ujarnya.

Panen Sedikit
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Lampung Kusnardi mengatakan kenaikan harga beras di Lampung karena panen yang terjadi sedikit. Selain itu pembeli gabah bersaing ketat dari luar Lampung seperti Serang dan Jawa Barat, sehingga harga GKP melonjak. "Sebenarnya beras ada, tapi gabahnya yang mahal,"kata dia.
Pihaknya terus memantau beras yang disalurkan melalui operasi pasar tidak dibeli pihak swasta, sehingga beras akan diterima secara merata kepada masyarakat. "Tapi saya yakin tidak sampai Maret akan stabil lagi, ini adalah siklus tahunan," ujarnya.

 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR