MALAIKAT protes kepada Allah—Tuhan Yang Mahakuasa untuk menjadi manusia menjadi khalifah—pemimpin di bumi. Dengan bangga malaikat berucap, ia adalah makhluk yang senantiasa bertasbih dengan memuji dan menyucikan Sang Pencipta. Sementara manusia hanya membuat kerusakan dan menumpahkan darah.

Tuhan menyakinkan bahwa apa yang diciptakan pasti tidak akan diketahui makhluk lainnya. Manusia diberikan kelebihan agar dia mampu memimpin di muka bumi. Sebagai khalifah (wakil) Tuhan, manusia harus sadar dan berbuat bijak menyeimbangkan perilakunya dengan sifat Tuhan sebagai Penguasa dan Pemelihara.



Dalam hitungan hari, rakyat negeri ini akan memilih khalifah untuk memimpin Indonesia lima tahun mendatang. Calon presiden (capres) nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dan nomor urut 02 Prabowo Subianto. Kedua putra terbaik bangsa itu mengadu kepiawaian. Mereka akan meyakinkan anak-anak bangsa agar bergegas memilihnya.

Tidak mudah menggiring rakyat menggunakan hak pilih sebagai warga negara untuk datang ke tempat pemungutan usara (TPS), pada hari Rabu, 17 April mendatang. Baik Jokowi maupun Prabowo menjual gagasan dan program. Siapa yang sudah terbukti dan siapa pula yang masih berwacana membangun negeri ini.

Rakyat sudah menilainya karena debat untuk pemilihan presiden sudah digelar tiga kali. Akhir pekan ini—pada Sabtu (30/3) malam, adalah debat putaran keempat. Menampilkan Jokowi dan Prabowo. Tema debat kali ini tentang ideologi, pemerintahan, keamanan, dan hubungan internasional.

Siapa yang piawai menjelaskan kondisi terkini yang dihadapi Indonesia? Pastikan keduanya bisa menjelaskan ke rakyat. Bangsa yang besar ini menghadapi perubahan baik di dalam maupun luar negeri.

Untungnya Indonesia memiliki ideologi Pancasila. Perekat dari perbedaan mulai Aceh hingga Papua. Perbedaan menghadapi pemilu merupakan hal yang pasti terjadi. Tetapi tidak berarti terjadinya perpecahan. Pastinya, terorisme, pemberontakan, atau upaya mengganti Pancasila adalah ancaman yang nyata bagi Negara Kesatuan RI.

Berkali-kali Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengingatkan anak-anak bangsa mewaspadai sejumlah ancaman bagi Indonesia. Adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) tiga kali (1926, 1948, dan 1965) memberontak dan ingin menghancurkan Nusantara. Selain PKI, paham khilafah mulai membuat gaduh bahkan menjadi ancaman mengoyakkan keutuhan dan keberagaman negeri ini. Itu ditegaskan Ryamizard!

Sejak dulu bangsa ini menjaga keutuhan dan tidak suka berkonflik. Candi Borobudur dan Prambanan, peninggalan Buddha dan Hindu, masih berdiri kokoh di tengah kehidupan umat muslim. Masjid dan gereja dibangun untuk kepentingan ibadah. Hanya beberapa meter, Istiqlal dan Katedral berdiri di IbuKota. Di Bandar Lampung,  berseberangan jalan ada Masjid Taqwa dan Gereja Katedral Kristus Raja.

***

Bahkan mantan Presiden ke-44 Amerika Serikat Barack Hussein Obama mengapresiasi Indonesia, saat kunjungannya beberapa tahun lalu. Orang nomor satu dari Negeri Paman Sam itu melihat Nusantara hidup dalam keberagaman. Menghindari diskriminasi dan segregasi agama. Hal itu dikuatkan sistem demokrasi dan saling menghormati sesama anak bangsa.

Jadi tidak heran, pada Januari 2019 Indonesia resmi menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).  Negara ini dipercaya dunia karena kemampuan berdiplomasi dan menjaga perdamaian. Maka itu Merah Putih tertancap di markas besar PBB selama dua tahun (1 Januari 2019—31 Desember 2020). Indonesia hebat!

Bahkan, Indonesia juga pernah menjadi anggota keamanan pada 1973, 1995, dan 2007. Sebenarnya apa yang dicari Indonesia dalam pergaulan internasional? Untuk meningkatkan kekompakan, mendorong pendekatan global memerangi terorisme dan radikalisme. Indonesia menjadi bagian dari proses kebijakan menjaga keamanan dunia sesuai Piagam PBB.

Kepercayaan terpilihnya kembali menjadi anggota tidak tetap DK dari rekam jejak diplomasi dan politik luar negeri Indonesia. Keberhasilan itu juga memengaruhi keamanan dan kepemimpinan negara. Paling tidak, pemilihan presiden dan anggota legislatif—menunjukkan kepada bangsa lainnya, pemilu di negeri ini berlangsung sejuk, aman, dan damai.

Pemilu yang damai sangat esensial karena turut menentukan kehidupan berbangsa lima tahun mendatang. Pesta demokrasi itu menggunakan uang rakyat yang tidak sedikit. Pemilu adalah instrumen memilih putra terbaik untuk duduk di kursi presiden dan parlemen. Semua anak bangsa terlibat karena memiliki hak berpendapat dan hak suara yang sama.

Pemilu ke-12 sejak tahun 1955 ini dipantau luar negeri. Maka itu kontestasi peserta pemilu harus berjalan di atas prinsip demokratis seperti kejujuran, kebenaran, tidak hoaks (bohong), fairness, dan toleransi. Jika prinsip itu tidak dijaga, akan terbuka lebar terjadinya pengelompokan golongan putih (golput). Terbentuknya golput seperti hantu demokrasi.  

Mengapa? Karena kompetensi penyelenggaraan pemilu sendiri belumlah menyentuh peningkatan kesejahteraan rakyat. Pemimpin harus berani melakukan perubahan. Kalau tidak berhasil, pasti tidak akan dipilih atau tidak memilih sama sekali. Tidak sedikit pula wakil rakyat dari hasil pemilu hanya memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya.

Tidak sedikit juga kasus korupsi yang menyeret kepala daerah dan wakil rakyat hasil pemilu. Mereka melakukan korupsi karena mengembalikan duit yang sudah dikeluarkan saat kampanye. Inilah salah satu penyebab angka golput tinggi. Rakyat menjadi kecewa.  

Ingat! Calon tidak hanya bisa berjanji, tapi juga terbukti dan piawai bekerja untuk kesejahteraan rakyat. Golput ada akibat sikap calon dan partai yang menyakiti hati pemilihnya. Ada hubungan erat antara angka golput dengan calon dan partai. Golput bisa mengganggu ketahanan dan stabilitas negara karena tidak ada lagi keteladanan dari elite politik dan tokoh panutan.  ***

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR