BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)—Sidang lanjutan perkara dugaan penggelapan 18 ton gula, digelar di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang, Rabu (9/5/2018). Sidang mengagendakan pemeriksaan terdakwa Adit (38), warga Kedaton, Bandar Lampung. Sidang yang dipimpin Hakim Yus Enidar dengan anggota Syamsudin dan Novian, tersebut berlangsung singkat, tak sampai 15 menit.

Sidang dihentikan karena pemberkasan di Kepolisian dalam hal ini penyidik Polda Lampung diduga melakuakan penekanan sewaktu memeriksa terdakwa Adit. Di hadapan hakim, terdakwa Adit mengakui terpaksa menandatangani berita acara pemeriksaan (BAP) karena diancam oleh penyidik menggunakan pistol. “Sidang tidak dapat dilanjutkan. Harus memeriksa saksi verbalisan,” kata Hakim.



Selain itu majelis hakim memerintahkan Jaksa penuntut umum Yusa dan Joni untuk menghadirkan saksi verbalisan yaitu seluruh tim penyidik perkara itu. Kuasa hukum terdakwa Adit yaitu David Sihombing mengatakan, pada sidang sebelumnya, majelis hakim memerintahkan jaksa menghadirkan barang bukti berupa satu unit truk Foso BE-9022-NB dan uang sebanyak Rp3,2 juta. Sementara seluruh barang bukti telah dikembalikan oleh Jaksa kepada pemiliknya karena perkara  sudah pernah diputus bebas dan telah dilakukan banding oleh jaksa, sehingga perkara sudah dianggap selesai.

Namun belakangan kasus itu diajukan kembali ke persidangan tanpa barang bukti, termasuk dalam perkara ini telah dilepaskan 6 tersangka di kepolisan yakni; Siswanto, Iman Santoso, Arif Kusuma, Sukarman, Ari Rida dan Ahmad Masrudin alias Nur alias Imam. Dalam persidangan, lima tersangka mengaku dilepas karena memberikan uang Rp30 juta per orang. Sementara satu tersangka yaitu Ahmad Masrudin mengaku dirinya tidak pernah sebagai tersangka dan terlapor.

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR