BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Sidang perkara korupsi Jalan Sentot Alibasa ruas Jalan Ki. Agus Anang hingga Jalan Soekarno-Hatta yang menjerat dua terdakwa atas nama Wilson (PPK) dan Selamet Riadi (kontraktor) kembali digelar di Pengadilan Tipikor Tanjungkarang, Senin (9/7/2018).

Jaksa penuntut Umum menghadirkan enam orang saksi dari Dinasi Pekerjaan Umum Kota Bandar Lampung. Keenam saksi tersebut yakni Bambang, Samsul Rahman, Ervina Kurniati, Joko Purnomo, Yudi Eric Hendarsyah Rusdan Arisandy dan Irwan Sujoko.



Di persidangan Hakim Anggota Gustina Aryani marah, lantaran saksi menyebut gambar proyek diselesaikan pada saat proyek belum dilakukan pelelangan, namun fakta di persidangan gambar proyek itu baru usai dikerjakan setelah jalan yang bermasalah itu dikerjakan.

Baca Juga:

Terdakwa Kasus Korupsi Ini Asik Main Ponsel Saat Proses Sidang Berlangsung

"Gambar siapa yang dipakai untuk lelang, kalian dapat dari siapa," tanya Hakim Gustina Aryani.

Mendengar ucapan itu para saksi terdiam, Hakim Gustina Aryani mengatakan secara logika tidak mungkin proyek yang sudah berjalan rancang gambar baru usai dibuat.

Menurut Gustina pada sidang sebelumnya saksi-saksi menyebut gambar proyek dibuat 17 Agustus 2013, sementara (para saksi) meyebut gambar tersebut sudah ada sebelum proyek dilakukan pelelangan.

"Saya tanya apakah kalian semua lulus sertifikasi atau tidak. Kalian ini dengan bangga mengatakan lulus tapi tidak mengerti apa-apa ini sebagai catatan buat kalian," kata Gustina Aryani.

Hakim Anggota Zaini Basir kembali mempertanyakan rangkap pekerjaan yang dilakukan para saksi selama proses pekerjaan dilakukan, menurut Hakim Zain
tidak ada aturan yang jelas mengenai tim Pokja pada proyek diperbolehkan merangkap pekerjaan sebagai tim pengawas,

"Cara kerja kalian ini seperti apa, kok dua jabatan, Pokja sekaligus pengawas. Memang tidak ada larangan hanya saja tidak ada aturan yang jelas mengatur hal itu. Kalau alasan kekurangan orang tidak mungkin banyak orang yang mau melakukan pengawasan," katanya.

Di persidangan juga terungkap bahwa proyek Jalan Sentot tidak matang direncanakan. Menurut Hakim Zaini semestinya proses lelang dilakukan semua sudah dipersiapkan  secara lengkap termasuk pendanaan. "Nah, ini dana keluar di Desember, sementara proses lelang pada pertengahan bulan," kata Hakim.

Mendengar ucapan itu saksi mengatakan pekerjaan Jalan Sentot baru dibayar setelah proyek berjalan beberapa bulan kemudian, " Ya, bulan Desember baru dana proyek keluar Majelis, untuk alasannya apa, BPKAD yang tahu," katanya.

Hakim lantas menyebut jika persolan itu ada di BPKAD akan saya pertanyakan hal ini, di BPKAD Trisno Andreas, nanti akan saya tanyakan soal ini," ucap Zaini Basri.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR