WEWENANG (hak dan kewajiban) masyarakat adat terhadap tanah ulayat timbul dari hubungan secara lahir batin sebagai akibat hubungannya dengan tanah dan telah berlangsung secara turun-temurun. Hubungan itu selain merupakan hubungan lahiriah juga merupakan hubungan batiniah yang bersifat religius magis.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat hukum adat yang bersangkutan, tanah atau wilayah adalah pemberian suatu kekuatan gaib atau peninggalan nenek moyang yang diperuntukkan kelangsungan hidup dan penghidupannya. Kemudian bagi keturunan atau generasinya sepanjang masa, adapun hubungan tersebut merupakan hubungan yang bersifat abadi.



Jika dilihat dari sistem hukum tanah adat, hak ulayat dapat mempunyai kekuatan berlaku ke dalam dan ke luar. Kekuatan ke dalam berhubungan dengan para warganya, sedangkan kekuatan berlaku ke luar dalam hubungannya dengan bukan anggota masyarakat hukum adatnya, yang disebut orang asing atau orang luar.

Kewajiban utama penguasa adat yang bersumber pada hak ulayat ialah memelihara kesejahteraan dan kepentingan anggota-anggota masyarakat hukumnya, menjaga jangan sampai timbul perselisihan mengenai penguasaan dan pemakaian tanah dan kalau terjadi sengketa ia wajib menyelesaikan.

Untuk hak ulayat mempunyai kekuatan berlaku ke luar, hak ulayat dipertahankan dan dilaksanakan oleh penguasa adat atau masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Orang-orang asing, artinya orang-orang yang bukan warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan yang bermaksud mengambil hasil hutan, berburu atau membuka tanah, dilarang masuk lingkungan tanah wilayah suatu masyarakat hukum adat tanpa izin penguasa adatnya.

Terkait penguasaan hak ulayat lainnya, masyarakat adat Lampung pada wilayah yang masih terbatas jumlah penduduknya dengan rumah yang masih terpencar-pencar dipisahkan oleh rimba hutan ada wilayah yang disebut dengan umbul.

Dari beberapa umbul yang letaknya saling terpencar tersebut biasanya terdapat lokasi-lokasi perladangan yang disebut huma. Huma merupakan kebun yang dalam pengerjaannya dikerjakan secara bersama-sama dengan tradisi nugal, dalam suatu kelompok umbulan mengerjakannya secara bergotong royong sebagaimana ciri masyarakat adat yang komunalistik dan kekeluargaan.

Selain itu ada juga sejenis kebun-kebun dalam sebuah hutan tanaman kecil yang disebut dengan repong. Repong-repong tersebut bisa berisi repong damar, lada, kopi, durian, dan lain-lain.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR