HARI Kebebasan Pers Internasional atau World Press Freedom Day, Kamis (3/5), baru saja berlalu dan ternyata situasi kebebasan pers dunia tahun ini bagi jurnalis dan pekerja media belum menggembirakan.

Lembaga internasional yang bergerak di bidang advokasi kasus kekerasan terhadap jurnalis, Reporters Without Borders (RSF), mencatat tren itu dalam Indeks Kemerdekaan Pers Dunia 2018 dengan tema Hatred of journalism threatens democracies.



Peringkat Indonesia di RSF pada tahun ini juga stagnan di angka 124. Peringkat ini sama dengan peringkat Indonesia pada tahun kemarin. Faktor penting yang patut diduga sebagai penyebab stagnannya peringkat Indonesia adalah sebab iklim hukum, politik, dan ekonomi kurang mendukung kebebasan pers.

Iklim hukum antara lain karena masih adanya sejumlah regulasi yang mengancam kemerdekaan pers seperti KUHP dan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Demikian pembuka rilis yang tersebar dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia kemarin.

Membaca hal ini, saya terkenang dengan Mochtar Lubis, wartawan legendaris yang selalu memperjuangkan hak asasi manusia. Ya, dari buku Mochtar Lubis, Wartawan Jihad (1992), pada bab Mochtar Lubis dan Universalitas HAM yang ditulis Todung Mulya Lubis, advokat yang juga aktivis HAM, menyebutkan Mochtar adalah wartawan pejuang dan pejuang wartawan.

Todung mengumpamakan sosok Mochtar sebagai pribadi yang tidak lapuk oleh hujan dan tidak lekang oleh panas. Teguh pada prinsipnya.

Di era industri pers, dia tetap berpikir dalam pers perjuangan. Padahal, era pers perjuangan sudah mundur dari sejarah. Dia tidak ingin mengorbankan prinsip kemerdekaan pers.

"Tetapi, ketika kita dulu berjuang ratusan ribu teman kita telah mati untuk merebut kemerdekaan. Pengorbanan itu kemudian ada artinya bagi kita. Apakah karena 100 orang yang bekerja pada kita, lalu kita hendak mengorbankan prinsip kemerdekaan pers." (Halaman 106—107)

Kebebasan pers menjadi hak asasi yang terpenting menurut Mochtar Lubis. Hanya dengan adanya kebebasan pers, semua pelanggaran hak asasi bisa dicegah. Dengan kebebasan pers itu jualah budaya malu untuk melanggar hak asasi dapat ditumbuhkan.

Dengan demikian, Mochtar adalah teladan dalam keberanian berpendapat bahkan jika harus berseberangan pendapat dengan penguasa sekalipun. Dialah simbol dari penganut teori hukum kodrat/alam yang percaya tidak ada hak asasi yang bisa dilepaskan dari manusia.

Berpijak masa kini, sudah sepatutnya jurnalis zaman now meneladani pemikiran dan sikap jentelmen seorang Mochtar Lubis: memetik hikmah yang positif dan menyampingkan yang negatif! Hal ini sesuai dengan konsep tabur tuai dalam iman kristiani yang tertera dalam Surat Paulus kepada jemaat di Galatia 6 Ayat 7B, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Tabik. n

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR