MEMPERINGATI Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli, apa yang bisa kita berikan pada anak-anak Indonesia sebagai wujud modal kecakapan hidup dalam era disrupsi? Sudah samakah hak-hak anak yang kita berikan? Sudahkah sama yang mereka rasakan dengan anak-anak di seluruh penjuru dunia?

Jangan membandingkannya dengan anak-anak dari negara yang sedang berkecamuk. Namun, bandingkan dengan negara-negara yang tingkat kesejahteraannya lebih baik dari kita. Mampukah nanti mereka terjun ke dunia nyata dan bersaing secara sehat dengan anak-anak lainnya?



Memberikan yang terbaik untuk anak sudah tentu menjadi keinginan setiap orang tua. Namun, apa yang terbaik menurut orang tua belum tentu serupa dalam kacamata anak. Banyak orang tua yang dengan dalih demi kebaikan anak justru memaksa anak untuk tidak menjadi dirinya sendiri dan abai akan hak-hak anaknya. Begitupun dengan kebanyakan sekolah juga masyarakat, yang belum mampu memberikan hak anak secara sempurna. Alhasil, kasus kekerasan pada anak tetap saja tinggi dan semakin bervariasi.

Meski dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah diatur dengan jelas mengenai perlindungan anak sampai kepada aturan sanksi pidana bagi yang melanggar hak anak, angka kasus pelanggaran hak anak meningkat. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), berbagai kasus banyak dipicu konflik keluarga, mulai kasus perceraian, disharmoni keluarga, keluarga miskin, penyimpangan perilaku ayah atau ibu, pernikahan siri, dan lainnya. Di luar itu, kasus kekerasan anak juga banyak terjadi di sekolah, mulai kekerasan fisik, verbal, hingga pelecehan seksual.

Anak-anak sangat rentan mengalami perlakuan tidak layak karena mereka masih dianggap lemah dan kurang didengarkan. Hal ini juga dipengaruhi budaya yang diyakini sebagian masyarakat di Indonesia, bahwa anak-anak tidak sopan jika beradu pendapat atau membantah orang yang lebih tua. Mereka lebih sering dianggap belum pantas dan hal ini menyebabkan anak-anak kesulitan berpikir kritis dan berani menyatakan argumentasi mereka.

Begitu juga dengan sistem pendidikan kita yang masih saja menganggap anak sebagai gelas kosong yang harus dijejali dengan berbagai pengetahuan. Seolah mereka tidak mampu berpikir dan berimajinasi dengan caranya sendiri sehingga tanpa sadar kita bagai mencetak manusia yang seragam dalam pengetahuan dan keterampilan.

Memperbaiki Pola Asuh

Mendidik tidaklah hal sulit, tetapi juga tak bisa dikatakan mudah. Memang tak ada sekolah khusus untuk menjadi orang tua, tetapi banyak sekali hasil penelitian tentang pola asuh keluarga. Spera (2015) menekankan tipologi pengasuhan dipengaruhi banyak faktor yang nantinya akan berdampak pada praktik pengasuhan, etika, tujuan, dan nilai yang akan ditanamkan keluarga kepada si anak.

Menurut Baumrin, ada empat pola asuh orang tua berdasarkan tingkat tuntutan dan kepedulian orang tua terhadap anaknya. Pertama, pola asuh authoritative yang dicirikan dengan tingginya tuntutan sekaligus kepedulian orang tua terhadap anaknya. Orang tua dengan pola asuh ini selalu berusaha menemukan hal-hal yang akan membantu anaknya berkembang sesuai dengan keinginan si anak, mengedepankan musyawarah, dan demokrasi.

Kedua, pola asuh authoritarian dengan ciri tingginya tuntutan dari orang tua, tetapi tidak diimbangi dengan kepedulian dan kasih sayang. Orang tua dengan tipe pengasuhan ini berusaha menjadikan anaknya seperti keinginannya tanpa peduli dan mempertimbangkan keinginan si anak. Anak dipaksa mengikuti semua keinginan orang tua tanpa kompromi.

Ketiga, pola asuh permissive dengan ciri kepedulian yang melimpah tanpa adanya tuntutan apa-apa untuk si anak. Orang tua memanjakan anak dengan memenuhi semua kebutuhannya tanpa ada tuntutan sedikit pun. Bagi orang tua tipe ini memberikan semua yang diinginkan anak dan memfasilitasi kebutuhannya secara berlebihan ialah bentuk kasih sayang yang paling tepat.

Keempat, pola asuh neglectful yang ditandai rendahnya tuntutan dan kepedulian orang tua terhadap anaknya. Orang tua tipe ini acuh tak acuh terhadap anaknya, tidak memberikan perhatian dan tidak memiliki target apa pun untuk anaknya. Semua terserah anak, orang tua tidak mau ambil pusing dengan segala problematik yang dihadapi anaknya.

Kesalahan pada pola asuh akan memicu terabaikannya hak-hak anak dan menyebabkan anak tumbuh menjadi generasi galau yang tidak punya kecakapan saat terjun ke masyarakat. Akibatnya, kita melihat betapa grafik kenakalan remaja, kekerasan, hingga pelecehan seksual pada anak meningkat dari tahun ke tahun.

Kids Zaman Now

Selain faktor keluarga, teknologi juga punya andil besar dalam pembentukan karakter anak. Teknologi yang berkembang pesat memengaruhi cara pandang, cara hidup, dan cara anak bersosialisasi. Perkembangan dan perubahan yang terjadi di belahan dunia mana pun bisa menyapa anak-anak kita sekarang dalam hitungan detik. Jika fondasi dari keluarga sudah kuat, anak akan memanfaatkan teknologi untuk berbagai hal positif. Sebaliknya, jika fondasi keluarga lemah, anak akan mudah terbawa arus negatif.

Di Indonesia, batasan anak dengan orang dewasa nyaris hilang. Istilah kids zaman now membedakan polah anak di masa kini dengan anak-anak pada masa dulu. Batas tabu bergeser dan berubah. Begitu juga berbagai kebiasaan anak. Jika di masa lalu anak cenderung bersenandung lagu khas anak-anak, saat ini anak balita pun sudah dijejali lagu-lagu cinta versi orang dewasa.

Seharusnya, kids zaman now lebih banyak mengukir prestasi, mampu berkreasi dan berinovasi, bukannya gagap dengan perkembangan zaman. Para orang dewasa juga harus kembali menimbang apakah perannya dalam mengiringi pertumbuhan anak-anak sudah tepat karena banyak anak yang justru rusak akibat ulah orang tua.

Keinginan menjadi orang tua yang canggih mendorong orang tua memaparkan anak pada gawai sejak anak berusia dini tanpa memikirkan dampaknya atau keinginan orang tua agar anak tampak pintar, membuat mereka memaksa anak mengikuti berbagai jenis les untuk mendukung akademik mereka, bahkan di usia prasekolah. Fase bermain dirampas dan anak tumbuh tanpa melaluinya seperti seharusnya mereka dapatkan.

Kemudian, mereka tumbuh menjadi sosok yang anti-sosial dan tidak terpenuhi inner child-nya. Dikhawatirkan, mereka nantinya akan menjadi orang tua yang secara psikologis tidak akan pernah matang untuk menjadi ayah atau ibu bagi anak-anaknya. Maka, sebelum siklus ini bergulir semakin banyak, mari kita putus mata rantai generasi galau ala kids zaman now.

Momentum Hari Anak Nasional ialah saat yang tepat untuk mengembalikan hak-hak anak, mendampingi mereka menghadapi tantangan zaman, dan mengukir masa depan yang lebih cemerlang. Selamat Hari Anak Nasional 2018 untuk anak-anak Indonesia.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR