KALIANDA (Lampost.co)  -- Guna menghadapi kekeringan, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, Agus Santoso meminta petani mengoptimalkan pompanisasi, baik dari saluran irigasi, embung, dan sumur bor.
"Agar tanaman padi bisa bertahan disaat musim kemarau, petani harus bisa mengoptimalkan pompanisasi yang ada. Jangan sampai tanaman padi mengalami kekeringan, hingga berdampak gagal panen," kata dia saat dihubungi Jumat (8/9/2017) malam.
Menurutnya, dalam meningkatkan pompanisasi tersebut petani harus memanfaatkan sumber air terdekat, baik saluran irigasi, sumur bor maupun embung. Saat ini, ia menilai air di saluran irigasi mulai menyurut.
"Kalau siang air di saluran irigasi sudah surut. Namun, disaat malam hari air di saluran irigasi kembali banyak karena air laut pasang," ujarnya.
Dia mengatakan saat ini Kecamatan Sragi memiliki bantuan sumur bor jenis sible (kecil, red) sebanyak 10 unit dan sumur bor besar sebanyak 3 unit. "Untuk sumur bor besar ini yang berfungsi hanya ada dua, yakni di Desa Baktirasa. Sedangkan, di Desa Sukapura mesinnya alami rusak," ujarnya.
Di samping itu, Kecamatan Sragi juga memiliki embung sebanyak 3 unit, yang tersebar di Desa Sumbersari 2 unit dan Sumberagung 1 unit. Namun, ada dua unit embung alami kekeringan juga.
"Embung di Sumbersari sama seperti saluran irigasi, airnya kering. Satu lagi di Sumberagung bangunan embung baru saja dibangun, jadi belum bisa dimanfaatkan. Serah terima saja belum kalau enggak salah," katanya.
Agus menambahkan kondisi lahan pertanian di Kecamatan Sragi saat ini masih status terancam kekeringan. Areal persawahan seluas 2.960 hektare sudah tertanami padi semua.
"Sempat ada laporan kekeringan, namun langsung turun hujan deras sehingga areal sawah kembali berair. Tapi, saat ini kondisi lahan sudah terancam kekeringan kembali," kata dia.
 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR