BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Guru Fisika SMK Negeri 1 Bandar Lampung, Puji Suprihatin harus bersoalan dengan pihak hukum karena tindak pidana penganiayaan terhadap anak dibawah umur yang merupakan siswa didiknya di sekolah karena bandel. 

Selain itu, Puji Suprihatin juga meminta kepala sekolah untuk transparansi soal realisasi dana komite sebesar Rp730 juta per tahun, dan itu sudah berlangsung sejak 2011 lalu. Kemudian Puji Suprihatin juga dimutasi dari Dinas Pendidikan, pekan ini Puji tidak bisa absen jari (namanya sudah dihapus dari daftar absen) dan belum menerima SK mutasi.



Kepala SMK Negeri 1 Bandar Lampung, M. Edy Harjito mengatakan bahwa Puji Suprihatin melakukan pemukulan terhadap siswanya. Namun sang guru ketika ditanya tidak mau mengakui pemukulan tersebut ketika dimediasi oleh pihak sekolah. Tidak lama dari kejadian tersebut, orang tua wali murid siswa yang dipukul membuat laporan kepada pihak kepolisian.

"Berawal dari hal yang sepele, karena murid telat mengumpul tugas maka si guru memukulnya. Peristiwa tersebut tidak bagus memang. Kemudian kita mediasi namun guru yang bersangkutan tidak mengakuinya. Jadi ikuti saja aturan hukum yang berlaku," katanya saat ditemui di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Senin (22/7/2019).

Kemudian ia mengatakan mengenai mutasi, ia mengatakan hal tersebut merupakan hal yang lumrah karena mengikuti kebijakan zonasi guru dari pemerintah. "Kalau dia menuduh sekolah tidak transparan mengenai anggaran BOS, BOSDA, Komite dan sebagainya kita transparan. Insya Allah kita amanah sesui dengan prosedur. Di sekolah kita juga rutin diaudit," kata Ketua MKKS SMK Kota Bandar Lampung ini.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Sulpakar mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui adanya informasi mengenai kejadian tersebut baik pemukulan siswa maupun transparansi anggaran. "Saya belum mengetahui informasi tersebut. Nanti kita panggil kepala sekolahnya," katanya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR