MENJADI guru mungkin menjadi salah satu cita-cita banyak orang. Namun bagaimana dengan guru sekolah luar biasa (SLB)? Tingginya kebutuhan masyarakat menyekolahkan anak berkebutuhan khusus di SLB, mendorong peningkatan kebutuhan akan guru pendidikan khusus.
Selain menguasai kompetensi dasar, guru SLB harus memiliki kesabaran dan jiwa yang besar. Demikian diutarakan Kepala SLB Dharma Bhakti Dharma Pertiwi Kemiling, Bandar Lampung, Tukiman. Guru SLB mendidik anak berkebutuhan khusus, di antaranya tunanetra, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, dan tunalaras.
Menurut dia, guru SLB bukan sekadar menyampaikan materi di kelas, melainkan juga membimbing dan mengarahkan siswa. "Di sekolah reguler, guru menggunakan sistem klasikal, sedangkan di SLB menerapkan pendekatan individu karena kemampuan siswa berbeda," kata Tukiman, beberapa waktu lalu.
Guru SLB dituntut memiliki komitmen tinggi. Bahasa yang digunakan yakni verbal, isyarat, dan kombinasi keduanya. "Biasanya untuk siswa tunarungu-wicara," ujarnya.
Setiap guru di kelas rata-rata mengampu 3—4 siswa atau lebih sesuai dengan jumlah siswa. Perlakuan bagi siswa juga berbeda, misalnya penyandang autis dengan siswa tunarungu-wicara. "Anak autis bersikap hiperaktif, jadi guru harus mampu menenangkan siswa sehingga bisa menerima pelajaran," kata dia.
Selain materi pelajaran, guru SLB juga mengajari keterampilan bagi siswa SMP dan SMA. Tujuannya mengasah keterampilan dan kemandirian siswa setelah lulus. Keterampilan yang diajarkan, di antaranya membatik, membuat hantaran, membuat sandal, manik-manik, menjahit, tataboga, dan tata rias kecantikan.
Syarat akademik guru SLB adalah S-1 Pendidikan Luar Biasa. Pendidikan tinggi di Lampung yang menyediakan jurusan tersebut adalah Universitas Muhammadiyah Lampung. Di luar Lampung, salah satu kampus terbaik yang menyediakan jurusan tersebut ialah Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. Untuk jenjang S-2 umumnya disebut Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus.
"Guru SLB saat ini kebanyakan sudah tua sehingga membutuhkan guru-guru muda untuk melanjutkan pendidikan bagi anak-anak istimewa," ujar Tukiman.
 


 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR