SELALU saja muncul rasa waswas setiap kali ada kabar Gunung Anak Krakatau kembali bergolak. Terakhir, pada Sabtu (25/5/2019), gunung berapi di Selat Sunda itu mengalami erupsi dan menimbulkan 17 kali kegempaan. 

Sampai hari ini, statusnya berada di level Waspada. Masyarakat atau wisatawan tidak diperbolehkan mendekati dalam radius 2 km dari kawah gunung tersebut. Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mengingatkan pada bencana tsunami yang menyapu pesisir Lampung dan Banten pada 22 Desember 2018), sekitar pukul 21.30. Bencana tersebut merenggut 200-an korban jiwa, ribuan korban luka-luka, menghancurkan ratusan kapal nelayan, rumah, dan fasilitas publik.



Diduga, bencana yang datang di kegelapan malam itu dipicu longsoran material yang masuk ke air laut setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi. 
Untuk merontokkan bagian tubuh gunung yang longsor ke dalam laut diperlukan energi besar dan hal ini tidak terdeteksi seismograf. Tetapi, ada sebagian lagi yang meyakini pemicu tsunami bukan hanya longsoran material, melainkan juga akibat adanya ledakan besar gunung tersebut di bawah laut. 

Namun, apa pun penyebabnya, Gunung Anak Krakatau tetaplah gunung berapi aktif dan berbahaya meskipun skala kerusakan yang ditimbulkan belum sebanding dengan sang induk, Gunung Krakatau. Jika letusan hebat Krakatau sampai menimbulkan perubahan iklim permukaan bumi, letusan GAK "sebatas" merusak kawasan pesisir Lampung dan Banten. Kenangan akan Krakatau diabadikan dalam berbagai bentuk, semisal dengan menamai pabrik baja, grup musik, nama ruangan/bangunan, hingga festival terbesar di Lampung.

Kendati tidak seganas sang induk, Gunung Anak Krakatau juga menyimpan potensi daya rusak yang sama. Itu sebabnya, pemantauan rutin harus terus dilakukan. 

Hingga kini, Gunung Anak Krakatau terus beraktivitas. Aliran lava pijar dari perut bumi membuatnya semakin besar dan semakin tinggi hingga akhirnya gunung tersebut menghancurkan dirinya sendiri. Saya termasuk yang beruntung pernah dua kali berkunjung sebelum gunung itu melakukan "harakiri" lima bulan lalu, yakni pada 2005 dan 2013.

Masih teringat ketika hamparan pasir hitam menyambut pengunjung saat pertama kali menjejakkan kaki di gunung tersebut. Masuk agak dalam, ada rerimbunan cemara laut yang nyaman untuk berteduh di terik matahari. Ada pos jaga petugas cagar alam berupa rumah panggung dan satu pondok kecil beratap daun kelapa di pantai. 

Pada kunjungan pertama (2005), tampak sejumlah nelayan dari Pulau Legundi menggunakan kawasan kaki Gunung Anak Krakatau sebagai tempat singgah. Namun, pada kunjungan kedua sepanjang pantai tampak sepi. 

Kini, gunung berapi itu sudah hancur dan ketinggiannya menyusut dari 338 meter menjadi 155 meter. Entah berapa puluh tahun lagi habitat di lokasi tersebut akan kembali seperti semula. Gunung Anak Krakatau selalu menyisakan sepotong rindu untuk kembali. 

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR