PERUSAHAAN teknologi penyedia layanan on demand, Grab, yang berpusat di Singapura, 27 Maret 2018, secara resmi mengakuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara. Langkah utama usai akuisisi, mitra pengemudi dan ojek Uber yang bergabung ke Grab wajib memenuhi syarat, yaitu menyerahkan surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) dan rekomendasi dari kecamatan, serta mengikuti safety riding test.

"Fokus utama kami membuat mitra-mitra pengemudi Uber bisa di platform Grab secepat mungkin," ujar Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata. Menurut dia, syarat itu tidak bisa ditawar di Grab karena menyangkut keamanan dan keselamatan pengemudi maupun penumpang. (Kompas.com, 6/4)



Berapa besar akuisisi Grab terhadap Uber Asia Tenggara itu belum dilaporkan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) maupun badan sejenis di Singapura. Namun, menurut TechCrunch (27/3/2018), biaya yang dikeluarkan Grab untuk membeli seluruh operasional Uber di Asia Tenggara tidak sampai 100 juta dolar AS (Rp1,35 triliun).

Angka tersebut relatif kecil, mengingat valuasi Grab besutan Anthony Tan itu telah mencapai 6 miliar dolar AS (Rp83 triliun). Selain dengan transaksi itu, Grab telah merekrut seluruh 500 karyawan Uber di Asia Tenggara, juga berhak atas seluruh layanan Uber di ASEAN yang selama lima tahun ini dibangun Uber dengan mengalokasikan dana sekitar 700 juta dolar AS (Rp9,6 triliun). (detik.com, 27/3)

Namun tidak mungkin Uber yang siap IPO (masuk bursa saham AS) 2019 tidak memperoleh imbal nilai yang sebanding dalam akuisisi tersebut. Selain masuknya CEO Uber Asia Tenggara Dara Kosrowshahi ke jajaran direksi Grab, Uber berhak atas 27,5% saham gabungan keduanya. Dengan valuasi Grab 6 miliar dolar AS, bagian Uber setidaknya 1,6 miliar dolar atau Rp22 triliun. Akhirnya ketahuan siapa yang lebih untung.

Grab, menurut Ridzki, kini di Indonesia telah memberikan layanan di 120 kota, dari Banda Aceh hingga Jayapura. Pada 2018, ada tiga layanan yang akan menjadi fokus Grab, yakni GrabFood, GrabExpress, dan GrabPay.

GrabFood kini telah hadir di 28 kota. Adapun GrabExpress, layanan antar makanan dan barang, telah hadir di 120 kota. Layanan itu amat digemari masyarakat Indonesia karena menawarkan kemudahan dan kecepatan.

Kemudian GrabPay dikembangkan terpadu dengan GrabFinancial. Layanan finansial bagi pengguna dan pengemudi tersebut memungkinkan mitra pengemudi menjadi pengusaha mikro lewat sistem pembayaran dan pembiayaannya. ***

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR