KEBAKARAN lahan di Lampung masih terjadi. Seperti di Mesuji, api membakar 50 hektare lahan pada Minggu (19/8). Peringatan siaga mencegah kebakaran lahan tidak ubahnya seperti angin lalu. Padahal, bahaya kebakaran hutan tidak hanya mengancam ekosistem di dalamnya, tapi juga membahayakan kesehatan dan keselamatan warga.

Berdasar pada data pemantauan satelit Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKB), pada 19-20 Agustus 2018 tercatat ada 15 titik api di Lampung. Jumlah titik panas itu terus bertambah dibanding dengan yang hanya terjadi pada 19 Agustus 2018, yaitu lima titik api.



Data satelit BMKG yang menemukan 15 titik panas pada 19—20 Agustus 2018 tersebar di antaranya enam titik di Sukadana (Lampung Timur). Kemudian, dua titik di Kecamatan Nunyai (Lampung Tengah) dan dua titik di Abung Tengah (Lampung Utara).

Lalu, masing-masing satu titik api di Mesuji, Gedungmeneng (Tulangbawang), Blambangan Umpu (Way Kanan), Bengkunat Belimbing (Pesisir Barat), dan Pakuanratu (Way Kanan). Adapun tingkat akurasi atau tingkat kepercayaannya berkisar 80 persen.

Sementara lima titik api yang terjadi pada 19 Agustus 2018 lokasinya berada di Blambangan Umpu (Way Kanan), Abung Timur (Lampung Utara), Bandar Mataram (Lampung Tengah), hutan Lampung Timur, dan Bumiagung (Lampung Timur).

Pihak BMKG menyebutkan wilayah yang berpotensi terjadi kebakaran hutan yakni Mesuji, Tulangbawang, dan Lampung Selatan. Hal itu lantaran wilayah-wilayah tersebut masih memiliki cukup banyak lahan hutan.

Kebakaran hutan menjadi salah satu hal yang paling patut diwaspadai saat musim kemarau seperti sekarang. Faktor kelembapan tanah yang menurun akibat kemarau akan menjadi pemicu mudahnya terjadi kebakaran.

BMKG memprediksi musim kemarau di Lampung pada tahun ini akan terjadi hingga akhir September 2018. Itu artinya, kewaspadaan tinggi terhadap potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan harus kian gencar dilakukan.

Model buka lahan atau panen tebu dengan cara dibakar harus dihindari saat ini. Selain itu, masyarakat maupun korporasi hendaknya memiliki kesadaran tinggi untuk tidak menyulut kobaran api di sembarang tempat. Apalagi, di lahan-lahan hutan yang berpotensi membuat percikan api dengan mudah menjalar dan meluas.

Potensi kebakaran hutan di Lampung sebenarnya berada pada tingkat yang patut untuk diwaspadai. Data di Dinas Kehutanan Lampung menyebutkan bahwa secara akumulasi dalam setiap tahun di Sang Bumi Ruwa Jurai selalu terjadi kebakaran hutan.

Luasan lahan yang terbakar pun tidak bisa dianggap ringan karena luasannya mencapai kisaran 100 hektare per tahun yang tersebar di sejumlah titik. Kebakaran hutan cukup parah di Lampung sempat terjadi pada September 2015. Saat itu, sekitar 1.400 hektare hutan di TNWK ludes terbakar.

Padahal UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan telah disebutkan setiap orang dilarang membakar hutan. Sanksi dalam aturan itu pun jelas, ancaman penjara 15 tahun dan denda hingga Rp5 miliar. Tapi, sepertinya masih menjadi kebiasaan orang Indonesia, mengabaikan peraturan.

Selalu sigap mencegah setiap bencana seperti kebakaran hutan hendaknya dilakukan secara kontinu dan intensif. Jangan sampai ada istilah lengah untuk urusan yang menyangkut keselamatan nyawa orang banyak. Lebih-lebih saat ini kita tengah menjadi tuan rumah Asian Games 2018 yang diikuti 45 negara se-Asia. Sebagai tuan rumah pendukung, Lampung tentunya harus ikut berpartisipasi menyukseskan perhelatan akbar ini, termasuk menjaga lingkungan dari kebakaran lahan dan hutan.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR