MUSEUM Gedung Sate disebut sebagai inovasi yang patut dijadikan rujukan. Museum yang terletak di Jalan Diponegoro, Bandung, itu sukses memadukan tiga unsur, yakni sejarah, arsitektur, dan teknologi.
"Ini karya besar yang bisa memberi pelajaran buat bangsa kita bahwa kalau kita mau buat sesuatu hal yang baru ternyata kita bisa," kata Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Asman Abnur di Museum Gedung Sate, beberapa waktu lalu. Museum tersebut bisa menjadi contoh sarana edukasi yang kekinian.
Museum berisi segala informasi terkait arsitektur Gedung Sate yang diklaim sebagai gedung terindah di dunia dan sejarah yang menyertainya.
Ada teknologi layar sentuh yang menyajikan informasi melalui grafis, jadi salah satu daya tarik museum. Ada juga ruangan yang membuat pengunjung seolah-olah terlibat dalam pengerjaan Gedung Sate dengan teknologi augmented reality.
Ada juga beberapa display yang mengupas desain pilar, kusen, tangga, hingga ke sudut-sudut eksterior dan interior Gedung Sate. Bahkan, ada tembok yang sengaja dikelupas untuk mengetahui struktur dan material penyusun gedung.
Di museum ini, pengunjung dapat menggali informasi melalui audio visual, gambar-gambar, hingga maket. Setiap sudut museum juga bisa dijadikan tempat selfie.
Museum seluas 500 meter persegi ini buka setiap hari, kecuali Senin dan hari libur nasional. Jam buka mulai pukul 09.30—16.00.
Kepala Bagian Publikasi Setda Jabar Ade Sukalsah mengatakan museum berisi sejarah dan arsitektur Gedung Sate yang dinobatkan sebagai gedung terindah di dunia. "Ada tiga segmen yang dapat dinikmati pengunjung, yaitu prolog, eksplorasi, dan kontemplasi," ujar Ade. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR