Gaya interior klasik tidak lekang oleh waktu. Gempuran berbagai gaya baru nyatanya tidak menggeser sang klasik yang memiliki penggemar setia. Salah satu yang jadi primadona pada tahun ini adalah gaya klasik Roma.

Arsitek Daud Haniman mengatakan gaya klasik Roma memberi pengaruh lebih besar dibanding tahun sebelumnya. "Tren klasik dari Roma sebenarnya sudah lama dipakai, namun tahun ini pengaruhnya lebih besar lagi," kata Daud, baru-baru ini. Bukan sekadar interior, gaya klasik Roma juga mulai merambah ke konsep lain seperti dekorasi pernikahan.
Gaya klasik saat ini lebih simpel dibanding tahun sebelumnya. Material yang dipakai maupun ukiran yang diaplikasikan lebih sederhana, sementara urusan warna didominasi putih.
Terus kalau motif setiap negara beda-beda, kalau Eropa bisa gambar dewa-dewa, terus Roma bisa daun-daun, binatang, pohon. Kalau Iran akar-akaran, pohon juga semakin rumit, semakin banyak pahatan semakin mahal tapi punya kepuasan.
Gaya klasik menonjolkan keindahan, kemewahan, dan keanggunan. "Pembuatannya relatif lebih rumit, butuh ketelitian, keahlian, dan waktu. Otomatis dana yang dikeluarkan untuk pembuatan maupun perawatan bisa lebih besar," kata Daud yang juga dosen Universitas Lampung itu.
Dulu, material yang banyak digunakan adalah marmer. Umumnya dibuat untuk pilar. Kini kayu menjadi pilihan karena lebih mudah didapatkan. "Motif klasik setiap negara berbeda-beda, misalnya Eropa gambar dewa, Roma seperti dedaunan, binatang, pohon, serta Iran akar-akaran," ujarnya.
Tidak heran, gaya interior satu ini identik dengan kaum berduit. "Konsep ini biasanya dipakai oleh kalangan yang menyukai seni," kata Daud.
Berbeda dengan minimalis, modern, maupun kontemporer, gaya klasik punya kelebihan yakni tidak lekang oleh waktu. Desain tersebut tetap cocok dipakai sepanjang masa.
Gaya klasik juga cocok dipadu dengan gaya lainnya. Namun, menurut dia, gaya tersebut lebih baik diaplikasikan secara total. "Gaya klasik banyak dipakai oleh public figure yang mengutamakan kualitas, hingga akhirnya dicontoh masyarakat," kata dia.
 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR