GAYA hidup masyarakat kelas menengah atas yang cenderung menahan belanja untuk konsumsi dengan mengalihkan uangnya ke  tabungan bank, seperti gejala yang diungkap Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu, ternyata berlanjut bahkan menguat. Itu tercatat pada data Center of Reform Economics (CORE) Indonesia yang dikaji pekan lalu.

"Proporsi pendapatan yang dibelanjakan masih cenderung turun. Sebaliknya, proporsi untuk tabungan meningkat," ujar Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal.



Selama kuartal I 2018, proporsi pendapatan yang ditabung mencapai 26,1%. Angka ini lebih tinggi pada periode yang sama tahun lalu yang tercatat 19%. Proporsi pendapatan yang dibelanjakan 64,1% pada kuartal I 2018, lebih rendah dari periode sama 2017 sebesar 65,2%. (Kompas.com, 24/4)

Indikator masyarakat menengah ke atas menahan belanja itu juga terlihat pada penjualan kendaraan roda empat, melambat dari pertumbuhan 6,15% pada kuartal I 2017, menjadi 2,88% pada kuartal I 2018.

Gejala serupa terlihat pada ritel. "Pertumbuhan penjualan ritel selama Januari hingga Februari 2018 malah terkontraksi minus 0,38%, pada periode sama tahun lalu masih tumbuh 5,05%," jelas Faisal.

Agak berbeda dengan indikator yang lebih terkait masyarakat menengah ke bawah, seperti penjualan sepeda motor. Pada kuartal I 2018 tumbuh 3,99%, dibanding minus 6,84% periode sama tahun lalu.

Hal itu tidak terlepas dari usaha pemerintah menaikkan daya beli masyarakat menengah ke bawah sejak tahun lalu dengan memperbesar dan mempercepat realisasi berbagai bantuan sosial, baik program keluarga harapan maupun program lain yang memberi stimulus daya beli masyarakat bawah. Seperti padat karya tunai dipacu dalam membangun infrastruktur desa.

Perombakan direksi Pertamina antara lain akibat tidak mampu mendistribusikan BBM bersubsidi merata, pantas dicatat, karena langkanya BBM subsidi menggerus pendapatan masyarakat bawah yang dipaksa membeli BBM nonsubsidi lebih mahal. Tarif listrik 450 VA dan 900 VA terseleksi untuk warga kurang mampu agar ditahan tidak naik. Pemaksaan penggantian meteran dengan token listrik supaya dihentikan karena terbukti lebih memberatkan rakyat hingga memperlemah daya belinya.

Peningkatan terus daya beli masyarakat menengah bawah penting sebagai kompensasi perubahan gaya hidup masyarakat menengah atas yang menahan belanja dan mengalihkan ke tabungan, agar tingkat belanja konsumsi masyarakat secara keseluruhan bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR