KALIANDA (Lampost.co) -- Untuk kedua kalinya, Pemkab Lampung Selatan bersama Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Lampung menggelar operasi pasar (OP) tabung gas elpiji ukuran 3 kilogram di kabupaten Lampung Selatan.  

Namun warga masyarakat kecamatan Ketapang tampak kecewa. Pasalnya OP elpiji bersubsidi itu tidak pernah menyentuh wilayah Pesisir Timur kabupaten Lampung Selatan itu. 



“Dua kali OP elpiji murah di tujuh kecamatan, hanya tempat kami yang enggak dapat. Apa bedanya kami dengan kecamatan lainnya,“ kata Herman, warga jalinpantim Desa Sidoasih, kecamatan Ketapang kepada lampost.co, Senin (27/8/2018).

Meski berada di depan rumah pangkalan elpiji bersubsidi, Ia mengaku kerap tidak kebagian, sehingga untuk mendapatkan elpiji 3 kg tersebut ia berburu dari warung eceran ke warung eceran yang lain. 

“Dapat juga harganya sudah tinggi, mencapai Rp 28ribu sampai Rp 30ribu per tabung. Walau harga tinggi terpaksa saya beli daripada dapur enggak ngebul,“ ungkap Herman. 

Sementara Yanko, salah satu pemilik pangkalan elpiji bersubsidi dipasar Sidoasih mengaku jika biasanya mendapat kiriman 300 tabung, sekarang hanya separonya, yakni 150 tabung per minggu. Sehingga saat kondisi kekurangan maka gas bersubidi itu semakin langka dan harga makin tak berpihak kepada maayarakat tidak mampu. 

Diketahui, untuk kedua kalinya OP Tabung gas elpiji bersubsisi itu akan digelar pada 14 desa di tujuh Kecamatan, yakni Bakauheni, Penengahan, Palas, Sragi, Kalianda, Sidomulyo, dan Way Panji.

Di kecamatan Penengahan akan dilaksanakan di Desa Blambangan, Pisang, Gayam, Pasuruan dan Klaten kecamatan Palas (Desa Rejomulyo), kecamatan Kalianda (desa Palembapang dan Sukaratu), kecamatan Bakauheni Menara Siger dan desa Kelawi), kecamatan Sidomulyo (desa Sukabanjar), kecamatan Way Panji (desa Balinuraga dan kecamatan Sragi. Setiap titik akan dijatah 550 tabung. 

 

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR