JAKARTA (Lampost.co) -- Gangguan listrik PT PLN (Persero) yang terjadi 4-5 Agustus lalu tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tapi juga imateriel. Hal tersebut dikatakan Cessy, ibu yang masih menyetok Air Susu Ibu (ASI) untuk anak bungsunya.

"Total kemarin ada 12 kantong ASI yang saya simpan di freezer, dan Alhamdulillah hanya dua kantong yang mencair. Sisanya rata-rata masih beku 80-90 persen sehingga masih bisa dibekukan kembali," ujar warga Kunciran, Pinang, Tangerang ini dikutip dari Medcom.id, Rabu, 21 Agustus 2019.



Berbekal pengetahuan yang ia dapat dari grup orangtua, Cessy memutuskan untuk membuang dua kantong ASI yang mencair karena takut tidak aman dikonsumsi si kecil.

"Daripada nanti bayi kenapa-kenapa, dan sudah berbau juga, maka kami putuskan buang saja," ujar dia..

Ibu dua anak juga menuturkan bagaimana pemadaman listrik kala itu membuat 'kerusuhan' kecil di rumahnya. Saat itu Cessy sudah berniat akan mengungsikan anak-anaknya ke hotel apabila pemadaman listrik masih berlanjut.

"Anak saya yang paling besar yang paling rusuh, enggak bisa tidur, tanya terus kapan listriknya menyala. Sedangkan anak yang paling kecil rewel karena gerah," katanya.

Di sisi lain Cessy pun sudah mendapatkan info terkait kompensasi yang akan diberikan PLN. Namun, dia menilai jumlah yang diberikan tidak sebanding dengan kerugian imateriel yang dialaminya.

"Menurut hitung-hitungan materi ya mungkin sesuai. Tapi kalau secara imateriel cuma bisa ngelus dada saja," ujarnya.

Ini bukan kali pertama Cessy mengalami pemadaman listrik tanpa pemberitahuan. Sebelumnya dia juga pernah mengalaminya meski tetapi tidak separah yang terakhir. Untuk kejadian kemarin Cessy menyesali penanganan yang dirasa kurang baik.

"Kalau memang hanya ada satu gardu, ya jangan hanya satu komplek yang mati. Kenapa tidak digilir (pemadamannya) supaya bisa gantian melakukan aktivitas. Yang saya lihat di Kunciran dan Sebagian Graha Raya mati, tapi di Duta Bintaro menyala terus," kata dia.

Senada dengan Cessy, Hilal juga merasa kompensasi yang diberikan tak sesuai. Dia pun telah mengecek melalui laman resmi PLN dana kompensasi yang diberikan oleh PLN. "Kecil ya, saya cuma dapat sekitar Rp45 ribu," ujarnya.

Kendati Hilal tidak merasakan kerugian besar seperti yang dialami Cessy, dirinya pun turut prihatin. Hal tersebut juga diamini Munir. Dia merasa kompensasi yang diberikan PLN belum sebanding. Dirinya bahkan hanya mendapat kompensasi sebesar Rp26 ribu.

"Kompensasinya belum sebanding, makanan Saya rusak, pengeluarannya malah lebih besar dari kompensasinya," ujar Munir singkat.

PLN akan memberikan kompensasi sesuai deklarasi Tingkat Mutu Pelayanan (TMP), dengan indikator lama gangguan. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 27 tahun 2017.

"Besaran kompensasi yang diterima dapat dilihat pada tagihan rekening September 2019 atau pada bukti pembelian token pertama setelah 1 September 2019 untuk konsumen prabayar," kata Vice President Public Relations PLN Dwi Suryo Abdullah, dalam keterangan resminya, Senin, 19 Agustus 2019.

Menurut Dwi, kompensasi akan diberikan sebesar 35 persen dari biaya beban atau rekening minimum untuk konsumen golongan tarif adjustment, dan sebesar 20 persen dari biaya beban atau rekening minimum untuk konsumen pada golongan tarif yang tidak dikenakan penyesuaian tarif tenaga listrik (non-adjustment).

Dia mengatakan untuk pelanggan prabayar, pengurangan tagihan disetarakan dengan pengurangan tagihan listrik pascabayar. Sementara khusus untuk pelanggan premium, PLN akan memberikan kompensasi sesuai Service Level Agreement (SLA) yang telah ditandatangani bersama.

"Dalam kondisi normal, seharusnya pembayaran kompensasi dibayarkan pada Oktober. Namun untuk kali ini, kami mempercepat pembayaran kompensasi di September, baik prabayar maupun pascabayar," kata Dwi.

 

 

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR