KALIANDA (lampost.co) -- Lambannya proses ganti rugi Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) di dua desa di Lampung Selatan, terkendala tanah hutan lindung. Akibat dari lambannya proses ganti rugi, berdampak kepada lambatnya proses pembangunan JTTS.

Berdasarkan informasi yang berhasil di himpun Lampost.co, dua desa itu yakni Batuliman Indah, Kecamatan Candipuro dan Tanjungratu, Kecamatan Katibung. Di kedua desa itu, proses ganti rugi belum rampung 100% karena terkendala hutan lindung atau register.



Kepala Desa Batuliman Indah, Bejo mengatakan sebanyak 85 bidang tanah di desa tersebut belum dibayar, karena proses ganti rugi terkendala status tanah.
"Dari sekitar 303 bidang, 85 masih belum selesai proses ganti ruginya," kata Bejo, Senin (4/9/2017).

Dijelaskannya, 85 bidang tanah milik masyarakat setempat itu, sebagian sudah miliki sertifikat dan sisanya belum ada. Tahapan yang dilakukan sudah sampai penilaian appraisal. 
"Sebagian sudah ada sertifikatnya dan sudah dinilai oleh tim apprasial," kata dia kepada lampost.co.

Kepala Desa Tanjungratu, Bertalena mengaku sebanyak 192 Kepala Keluarga (KK) yang terkena mega proyek nasional JTTS.
"Kalau bidangnya lupa, tapi kalau KK nya sekitar 192," kata dia.

Dikatakannya, baru sebagian warga yang sudah dibayar uang ganti rugi, sementara sisanya masih dalam proses.
"Terkendala karena tanah milik warga diakui milik kehutanan. Ini masih diurus," kata dia.

Sementara itu, staf Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KPUPR) Jimun menjelaskan di Desa Batuliman dalam tahap penilaian apprasial. 
"Untuk lahan warga yang tidak ada masalah sudah dilakukan pembayaran awal tahun 2017 lalu. Sedangkan lahan yang ini terkait permasalahan hutan register," ujarnya.

Sedangkan di Desa Tanjungratu, Kecamatan Katibung, kata dia, sudah tahap pengajuan Surat Perintah Pembayaran (SPP). Terlambatnya pembayaran ganti rugi disebabkan sertifikat tidak di tangan warga.
"Sudah 56 dari 70 bidang yang diajukan SPP. Sisanya karena ada sertifikat masih ada di bank sebagian lagi karena masalah hutan register," katanya. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR