BEBERAPA waktu ini, cuaca sedang kurang bersahabat. Beberapa di antara kawan-kawan ada yang terserang batuk dan flu.

Saya ingat sebuah film The Flu/Gamgi pada 2013. Film itu mengisahkan tentang bencana Korea Selatan yang ditulis dan disutradarai oleh Kim Sung-su, tentang pecahnya penyakit mematikan di sebuah kota.



Ceritanya dimulai dari sebuah kontainer berisi ratusan ayam dan imigran. Empat orang imigran terperangkap di sebuah kontainer itu. Ratusan ayam mati karena virus flu, begitu pula dengan tiga imigran di antaranya meninggal, sementara satu orang mampu bertahan hidup.

Satu orang ini diketahui daya tahan tubuhnya kebal terhadap virus flu yang menyerang dari ayam ke manusia. Kontainer yang tertutup rapat itu dibuka oleh warga yang tak sengaja melintasi truk itu.

Virus ini bermutasi menjadi virus mematikan dan dengan cepat menularkan virus ke seisi Kota Bundang melalui udara setelah satu-satunya imigran yang masih hidup berhasil lolos dari kontainer.

Virus flu menyebar dari manusia satu ke manusia lainnya sampai ke penjuru kota. Ribuan warga terkontaminasi oleh virus mematikan itu. Sampai di cerita itu mengisahkan seorang anak dari dokter perempuan yang terkena virus flu pula.

Dokter itu lantas mencari dari imigran yang tahan terhadap virus di kerumunan warga. Darah imigran itu diambil menjadi vaksin untuk melawan virus. Sang anak dokter yang terkena virus mampu ditemukan dan bisa diberi vaksin dari imigran. Anak dokter perempuan itu akhirnya bisa selamat.

Saat ini Indonesia sedang menggalakkan pemutusan penyakit rubella melalui vaksin MR. Sama seperti film itu, vaksin yang ditanamkan di tubuh anak-anak usia 9 bulan sampai 15 tahun yang menjadi target vaksin mestinya menjadi upaya yang perlu didukung. Bahkan, anak-anak yang divaksin itu menjadi pahlawan untuk anak-anak lainnya yang tidak divaksin.

Tentang sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang vaksin, pihak pemerintah jangan terlalu gagap dengan hal ini. Mestinya, persiapan selain anggaran, pengadaan vaksin, sertifikat MUI ini juga penjadi prioritas.

Pada 2016, berita tentang vaksin palsu beredar. Oknum yang berani memalsukan vaksin karena bakteri dalam vaksin tidak terlihat kasat mata. Tentang vaksin measless rubella (MR), hendaknya kejadian serupa tak berulang. 

Pekan lalu saudara kita di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan sekitarnya menjadi korban bencana alam gempa bumi. Para pengungsi yang selamat dari gempa mesti menjadi perhatian bersama. Keberadaan makanan dan minuman harus melampui jangan sampai kurang. Jangan sampai kondisi tubuh yang kurang fit menyebabkan virus menyerang para pengungsi.

Semoga anak-anak Indonesia makin merdeka dari penyakit rubella di Hari Kemerdekaan ke-73 tahun ini.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR