GAMBUT itu potret masyarakat lapisan bawah yang tak banyak bicara sehingga lazim disebut dengan “silent majority” (mayoritas yang diam) hidup di bawah permukaan. Ketika gambut terbakar, dari Riau ke Sumsel dan semua provinsi di Kalimantan, sepanjang September 2019 ini belum berhasil dipadamkan.

Kenapa gambut bisa terbakar? Karena ada percikan api penyulut di bagian gambut yang kering, terutama ketika potensi penyulut itu kurang diperhatikan atau tidak dipedulikan maupun tak diisolasi secara baik.



Kalau gambut terbakar hangus, warga “silent majority juga demikian, seperti yang terjadi pada kerusuhan massal Mei 1998 di mana ratusan warga lapisan bawah tewas dalam mal-mal yang terbakar di Jakarta.

Apa pemicu “warga gambut” pada 1998 terbakar? Tiada lain pemicunya adalah ketidakpedulian elite penguasa terhadap “warga gambut” yang memang dibungkam atau dibisukan aspirasinya. Lantas bagaimana kalau aspirasi “warga gambut” itu justru nyaring dilantunkan seperti era reformasi sekarang ini?

Sama saja, kalau teriakan aspirasi mereka dicuekin, seperti terkait pelemahan KPK yang tak kunjung dihentikan, gambut kering bisa terbakar.

Itu tercermin di lirik lagu Silent Majority yang ditulis Akimoto Yasushi dalam bahasa Jepang (sairento majoritii) dinyanyikan vokal grup Keyakizaka46, yang terdiri dari 22 remaja putri kelahiran era transisi Generasi Milenial ke Generasi Z (1995—2000). Di lagu itu generasi muda sebagai silent majority, dan orang dewasa jadi penguasa.

Terjemahan Kairi10969 (furahasekai.net); Persimpangan dibanjiri orang-orang/Mau pergi ke mana? (Terbawa hanyut)/Memakai pakaian serupa/Dengan ekspresi serupa.

Bagai kebingungan dalam kerumunan/Aku berjalan (Tanpa Ragu)/Agar berbeda dengan seseorang/Apa yang sedang kuragukan?

Kamu memiliki kebebasan untuk hidup dengan caramu/Jangan dibuat khawatir oleh orang-orang dewasa/Jika menyerah sejak awal/Untuk apa kita dilahirkan?/Saat bermimpi, terkadang kita merasa kesepian/Berjalan tanpa ada siapa pun/Semua takkan dimulai meski dunia dipenuhi orang-orang/Apakah tak apa hanya dengan kata "Ya"?/Mayoritas orang diam.

Seorang presiden dari suatu negara/Telah berkata (salah paham) bahwa/Orang-orang tidak angkat bicara/Jika mereka setuju.

Memilih itu hal penting/Jangan hanya menyerahkannya pada orang lain/Jika tidak bergerak/Takkan tersampaikan kata "Tidak!"

Realitas sejarah, ketika warga gambut kering terbakar, silent majority berkata "Tidak!", rezim Orba tumbang. ***

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR