LIWA (Lampost.co) -- Guna meningkatkan kesehatan serta mengubah pola hidup masyarakat agar berperilaku bersih dan sehat, Pemkab Lampung Barat tahun ini mengalokasikan dana yang bersumber dari DAK sebesar Rp7,6 miliar akan diperuntukan bagi pelaksanaan pembangunan tangki septik masyarakat yang tersebar di 27 pekon.

Kabid Cipta Karya Dinas PU Lampung Barat Hermanto, Minggu (1/4/2018), menjelaskan DAK sebesar Rp7,6 miliar itu akan dilaksanakan untuk pelaksanaan pembangunan tangki septik yang bersifat komunal dan individual di 27 lokasi.



Pembangunan tangki septik secara komunal itu adalah pembangunan tangki septik untuk kebutuhan antara 5-10 rumah tangga dan 10-20 rumah tangga yang tinggal dalam satu blok perumahan masyarakat.

Ke-27 lokasi masyarakat yang akan mendapatkan program pembangunan tangki septik komunal dan individual itu antara lain di Pekon Suoh Kecamatan Bandarnegeri Suoh. Kemudian Pekon Tuguratu (Suoh), Pekon Way Petai, Pekon Simpangsari (Sumberjaya), Pekon Campangtiga dan Argomulio dan Batukebayan (Batuketulis). Kemudina Pekon Sidodadi dan Sukadamai (Airhitam), Pekon Hujung (Belalau), Pekon Tebaliokh (Batubrak), Pekon Lumbok Timur dan Lumbok Selatan (Lumbok Seminung), Pekon Trimulio, Mekarjaya dan Puramekar (Gedungsurian).

Lalu Pekon Puralaksana dan Mutaralam (Way Tenong), pekon Sinarluas, Pekon Muarajaya 1, Purawiwitan, Tribudisyukur, Tribudimakmur (Kebuntebu). Pekon Hanakau (sukau) dan Kelurahan Way Mengaku (Balikbukit).

Hermanto menambahkan, sistem pengerjaan program pembangunan tangki septik komunal maupun individual tersebut dilakukan secara swakelola oleh masyarakat itu sendiri. Pemkab melalui pihaknya hanya menyediakan dana dan memfasilitasi serta mengawasi pelaksanaanya.

Menurutnya, program itu dilaksanakan untuk menyediakan sarana kebutuhan sanitasi bagi masyarakat terutama bagi masyarakat yang belum memilikinya. Hal ini mengingat selama ini masih banyak masyarakat terutama yang ada di perkampungan belum memiliki jamban. Untuk kebutuhan sanitasi, kata dia, hingga saat ini masih banyak masyarakat BAB ke sungai bahkan di kebun-kebun. Hal ini tentu akan berdampak kepada pola hidup yang tidak sehat. Apalagi jika sungai yang digunakan itu juga digunakan oleh orang disekitarnya untuk keperluan lainya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR