WAY KANAN (Lampost.co) -- Fitoremediasi sebagai upaya penanggulangan pencemaran Merkuri (Hg) pada sungai untuk mengurangi dampak gangguan kesehatan masyarakat di Kabupaten Way Kanan. Hal itu tertuang dalam tugas kuliah Mahasiswa S3 Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Lampung Anang Risgiyanto.

Saat ini fenomena kerusakan lingkungan terjadi di seluruh sektor, salah satunya adalah sektor pertambangan.  Pertambangan sebagai industri yang mempunyai resiko lingkungan yang tinggi selalu mendapatkan perhatian khusus oleh publik. Salah satu masalah yang sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) adalah maraknya kegiatan pertambangan tanpa ijin (PETI). Lingkungan yang telah rusak dan tercemar itu harus segera ditanggulangi.  Penemuan potensi alam berupa komoditas emas di Kabupaten Way Kanan menyebabkan semakin meningkatnya kegiatan penambangan emas di sepanjang aliran sungai.  



Adanya potensi alam tersebut menimbulkan adanya Penambang Emas Tanpa Izin (PETI). Maraknya Penambangan Emas Tanpa Izin tersebut merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tercemarnya sungai oleh logam berat. Hal ini dikarenakan penggunaan zat-zat yang berbahaya seperti merkuri dan sianida untuk memisahkan emas dari endapan sedimen (lumpur, pasir dan air). 

"Limbah hasil pengolahan emas dibuang begitu saja tanpa diolah terlebih dahulu, sehingga lingkungan menjadi tercemar dan membahayakan kesehatan para penambang maupun masyarakat sekitar lokasi PETI (Menteri Pekerjaan Umum, 2013)," paparnya kepada Lampost.co, Minggu (23/6/2019).

Kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) lebih banyak menimbulkan dampak negatif dibandingkan dampak positifnya seperti terjadinya pencemaran lingkungan dan kerusakan lingkungan sekitar. Limbah yang dihasilkan dari sisa penambangan dapat mencemari perairan sungai di Way Kanan, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat yang memanfaatkan air tersebut.  Sungai tersebut memiliki fungsi yang sangat penting yaitu sebagai sarana kegiatan perikanan, irigasi pertanian, bahkan bahan baku air minum. 

Salah satu dari bahan pencemaran tersebut adalah logam berat. Merkuri atau juga disebut air raksa merupakan salah satu logam berat yang menjadi bahan pencemaran. Masuknnya merkuri dalam jumlah yang tinggi ke dalam lingkungan perairan dapat menyebabkan efek yang buruk bagi organisme yang hidup pada perairan tersebut, bahkan dapat membahayakan kesehatan manusia yang menggunakan air dan mengkonsumsi organisme tersebut. 

Jika merkuri ini telah masuk dalam rantai makanan maka suatu saat akan masuk pada tubuh manusia. Permasalahan konsentrasi merkuri akibat penambangan tradisional di sungai tidak akan teratasi dengan baik apabila kebijakan pengelolaan ekosistem perairan tidak terarah untuk mengatasi bagaimana alternatif pengelolaan sehingga pencemaran terhadap lingkungan perairan tidak akan terjadi.

Salah satu cara penanggulangan pencemaran merkuri adalah dengan fitoremediasi. Fitoremediasi adalah konsep mengolah air limbah dengan menggunakan media tanaman.  Fitoremediasi adalah penggunaan tumbuhan atau pohon untuk menyisihkan atau menetralkan kontaminan, seperti yang berada dalam tanah atau air yang tercemar (Miretzky, dkk. 2004), kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan itu. 

"Keuntungan utama dari fitoremediasi dibandingkan dengan sistem remediasi lainnya menurut Miller (1996) adalah kemampuannya untuk menghasilkan buangan sekunder yang lebih rendah sifat toksiknya, lebih bersahabat dengan lingkungan serta lebih ekonomis.  Beberapa contoh tanaman yang dapat digunakan sebagai tanaman fitoremediasi yaitu eceng gondok, kangkung air, kiambang, jarak pagar, bambu air, teratai, dan lainnya," ungkapnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR