PANARAGAN (Lampost.co)-Pemukulan gong oleh ketua federasi adat Megow pak Tulangbawang, Herman Artha, disaksikan Bupati Tulangbawang barat (Tubaba) Umar Ahmad, Wakil ketua DPRD Tubaba, Ponco Nugroho, ketua dewan kesenian Tubaba, Fauzi Hasan, budayawan Lampung, Ansori Djausal dan ratusan tokoh adat, masyarakat serta undangan di pelataran parkir Islamic center Panaragan jaya, menjadi pembuka festival Tubaba ke tiga tahun 2018.

Usai pembukaan Festival mengusung tema spirit multikulturalisme "Dari Aku Menuju Kita" pengunjung disuguhi penampilan grup gambus dan nasyid pelajar SMPN 1 Tumijajar, dilanjutkan tari Bedana oleh 40 orang penari dan tari Nenemo yang melibatkan 56 orang penari berlatarbelakang pelajar dari berbagai sekolah di Tubaba.
 Lalu Bupati dan sejumlah pejabat diarak menuju venue pameran karya rupa oleh reog Ponorogo Bina budaya Joyo Gumelar yang beranggotakan 35 orang.



Sebelum memasuki gedung pameran di Sesat agung Bumi Gayo, rombongan disambut oleh seniman nasional, Hanafi yang meminta para pejabat dan undangan untuk memberikan coretan bebas di atas kanvas putih. Kemudian oleh Hanafi, coretan dan tulisan pengunjung itu dalam hitungan menit dirubahnya menjadi gambar ayam burgo yang sarat dengan makna.

"Karya ini adalah sebuah kolaboratif dari seluruh masyarakat Tulangbawang barat khususnya hari ini untuk mengenang para pahlawan dengan cara kita lebih baik, lebih jujur dan lebih sopan terhadap orang tua melalui gambar ini," kata Hanafi.

Sementara itu, Bupati Umar Ahmad, menuturkan, Festival Tubaba adalah etalase untuk melihat Tubaba dalam menjaga tradisi lama dan juga menciptakan tradisi baru yang pada prinsipnya masyarakat Tubaba mendapat sisi tradisional dan sisi modern sekaligus menjangkau ilmu pengetahuan dan pengalaman.

" Festival Tubaba yang ketiga ini adalah proses masih singkat bahkan belum ada apa-apanya, dan diharapkan akan bisa menjadi besar, mengenai tanggal 10 November (peringatan hari pahlawan) sekaligus kita meminjam semangatnya untuk kita sesuaikan dengan prinsip-prinsip Nemen, Nedes, Nerimo semangat bekerja keras, tahan banting dan mempunyai keihklasan," ujarnya.

Umar berharap festival Tubaba dapat terus bergerak menjadi ruang multikultural, melihat kondisi Tubaba yang terdiri dari banyak etnis yang telah menjadi warga Tubaba, sehingga tidak ada lagi kata pribumi dan pendatang untuk Tubaba.

Sementara itu, Ansori Djausal mengapresiasi,  terobosan budaya  dengan mengutamakan proses yang terlihat dari festival budaya Tubaba tahun ke tiga ini.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR