JAKARTA (Lampost.co) --  Facebook mencatat terjadi peningkatan deteksi proaktif untuk gambaran kekerasan dari 72 persen menjadi 97 persen. Selain itu, deteksi untuk ujaran kebencian pun meningkat dua kali lipat dari 24 persen menjadi 52 persen.

VP Product Management Facebook Guy Rosen, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerbitkan laporan penegakan standar komunitas yang memuat upaya penegakan kebijakan perusahaan dalam menghapus gambaran kekerasan hingga ujaran kebencian.



"Kami pun menambahkan dua kategori baru yakni perundungan dan pelecehan, serta ketelanjangan anak dan eksploitasi seksual anak," ujarnya dalam keterangan resmi, baru-baru ini.

Pada kuartal tiga 2018, Facebook telah menindak 15,4 juta konten yang memuat gambaran kekerasan, lebih dari 10 kali lipat jumlah konten yang ditindak pada kuartal empat 2017.

"Peningkatan ini disebabkan oleh terus meningkatnya teknologi kami yang memungkinkan penerapan tindakan yang sama secara otomatis untuk konten yang sangat serupa atau identik," ungkap Rosen.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa data dari dua kategori baru yang ditambahkan ke laporan ini yakni perundungan serta ketelanjangan anak dan eksploitasi seksual anak akan berfungsi sebagai titik awal yang dapat digunakan untuk mengukur kemajuan identifikasi.

Perundungan dan Pelecehan cenderung bersifat personal dan spesifik konteksnya. Jadi, dalam banyak kasus, orang harus melaporkan perilaku sebelum dapat mengidentifikasi atau menghapusnya. Ini mengakibatkan tingkat deteksi proaktif yang lebih rendah daripada jenis pelanggaran lainnya.

"Pada kuartal terakhir, kami menindak 2,1 juta konten yang melanggar kebijakan kami tentang perundungan dan pelecehan, menghapus 15 persen di antaranya sebelum dilaporkan. Kami menjelajahi konten ini secara proaktif selagi mencari jenis pelanggaran lain," paparnya.

"Secara keseluruhan, kami tahu bahwa ada lebih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan dalam hal pencegahan penyalahgunaan di Facebook. Pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan akan terus membantu kami mendeteksi dan menghapus konten buruk dari Facebook," tambah Rosen.

Facebook Hapus Akun Palsu

Selain itu, Facebook juga telah menghapus lebih banyak akun palsu pada kuartal 2 (sebanyak 800,4 juta) dan kuartal 3 (753,7 juta) dibandingkan kuartal sebelumnya. Sebagian besar akun palsu ini merupakan akibat dari serangan spam dengan motivasi komersial yang berusaha membuat akun palsu secara massal.

"Karena kami dapat menghapus sebagian besar akun ini dalam beberapa menit saja setelah akun didaftarkan, jumlah akun palsu di Facebook tetap stabil di persentase 3% sampai 4% pengguna aktif per bulan, sebagaimana dilaporkan dalam temuan kuartal 3 kami," terang dia.

Secara keseluruhan, kata dia, pihaknya tahu bahwa ada lebih banyak pekerjaan yang harus pihaknya lakukan dalam hal pencegahan penyalahgunaan di Facebook. Pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan akan terus membantu pihaknya mendeteksi dan menghapus konten buruk dari Facebook.

"Pengukuran kemajuan juga penting, karena ini membantu tim kami berfokus menghadapi tantangan dan bertanggung jawab atas pekerjaan kami. Untuk membantu kami mengevaluasi proses dan metodologi data yang kami gunakan bersama Data Transparency Advisory Group (DTAG), kelompok pakar pengukuran dan tata kelola. Kami akan terus meningkatkan data ini seiring waktu, agar lebih akurat dan bermakna," tutup Rosen.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR