DI tengah geliat kehidupan yang keras dan payah, merenung sejenak dan merefleksikan nilai-nilai hidup boleh diibaratkan setitik air yang melegakan dahaga. Nilai hidup manusia bukan bawaan dari lahir, melainkan produk dari pengaruh didikan yang diterima dalam keluarga dan masyarakat. Nilai hidup manusia itu ditentukan budayanya masing-masing. Budaya yang diturunkan dari orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan sebagainya.
Namun, saya tidak ingin menasihati atau melakukan hal semacamnya. Tidak pantas dan tidak patut saya menuliskan hal tersebut. Oleh sebab saya beretnis Batak—dus saya membawa budaya Batak dalam diri—izinkan saya berbagi nilai religius kristiani yang terkandung saat saya mendengarkan khotbah di Gereja HKBP Bergen, Lampung Selatan, Minggu (4/2).
Di seluruh penjuru Tanah Air yang tergabung dalam organisasi bernama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) nama minggunya adalah Minggu Sexagesima (60 Ari Andorang So Haheheon) yang artinya 60 hari sebelum kebangkitan Yesus Kristus. Topik minggunya adalah Mendengar dan Melakukan Firman Allah (Manangihon Jala Mangulahon Hata Ni Debata).
Untuk khotbah yang disampaikan tertera dalam Injil Lukas 8:9—15. Ini cerita Yesus kepada murid-murid-Nya yang menuturkan perumpamaan tentang seorang penabur. Sebenarnya, versi lengkapnya kisah ini terdapat dalam Lukas 8: Ayat 4—15. Namun, HKBP memulainya dari Ayat ke-9—15. Murid-muridnya mempertanyakan maksud perumpamaan yang diberikan Yesus. Mereka bingung dan tidak memahami perumpamaan yang diberikan Yesus.
Yesus menuturkan kisah ada seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Kemudian, sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu. Setelah tumbuh, ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Ada pula yang jatuh di tengah semak duri dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Terakhir, yang sebagian jatuh di tanah yang baik itu setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.
Yesus menjawab arti perumpamaan benih itu adalah firman Allah. Jika benih itu jatuh di pinggir jalan, itu berarti orang yang telah mendengar firman kemudian datanglah iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Sementara yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar. Mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.
Kemudian, yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan serta kenikmatan hidup. Akibatnya, mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Terakhir, yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.
Maka, setiap orang diharapkan bisa bertumbuh kembang dalam rohaninya, tidak hanya jasmaninya. Setiap orang harus menghasilkan buah-buah kasihnya dalam kehidupan. Sembari terus berupaya menghasilkan buah yang baik, saya mengevaluasi diri yang manakah contoh untukku saat ini? Lalu, tipe yang manakah saudara?

 



 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR