ANKARA (Lampost.co) -- Presiden Turki mengatakan bahwa sekitar tiga juta pengungsi Suriah dapat kembali ke negara mereka untuk tinggal di zona aman di utara.
 
Recep Tayyip Erdogan mengatakan zona itu -- yang sudah disiapkan bekerja sama dengan Amerika Serikat -- perlu diperpanjang agar tujuan itu tercapai.
 
Gerilyawan Kurdi yang didukung AS sebelumnya pindah kembali dari sebidang wilayah Suriah di sepanjang perbatasan Turki.

Dikutip dari laman BBC, Selasa 17 September 2019, Turki menganggap pasukan Kurdi sebagai teroris. Komentar Erdogan muncul setelah pembicaraan di Ankara dengan presiden Rusia dan Iran, Vladimir Putin dan Hassan Rouhani.
 
Rakyat Kurdi belum menanggapi rencana Erdogan, tetapi mereka hampir pasti akan menentangnya, kata wartawan BBC Alan Johnston.
 
Awal bulan ini, Turki memperingatkan akan membuka kembali rute bagi pengungsi Suriah untuk memasuki Eropa jika tidak mendapatkan lebih banyak dukungan internasional untuk ‘zona aman’ di Suriah utara.
 
Turki menampung lebih dari 3,6 juta warga Suriah yang melarikan diri dari perang saudara yang dimulai pada 2011. Puluhan ribu warga sipil melarikan diri ke utara dari Idlib, sebuah provinsi yang dikuasai pasukan pemberontak dan militan, ke perbatasan Turki.
 
Di bawah perjanjian 2016 dengan Uni Eropa, Turki memberlakukan kontrol yang lebih kuat buat mengekang aliran imigran dan pengungsi ke Eropa.
 
Kesepakatan itu melibatkan janji Uni Eropa untuk memberikan 6 miliar uero (senilai Rp 93 triliun) dalam bantuan ke Turki untuk menampung pengungsi Suriah.
 
Erdogan telah mengeluh bahwa hanya 3 miliar euro yang telah mengucur sejauh ini, meskipun Uni Eropa mengatakan 5,6 miliar euro telah disediakan.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

TAGS


KOMENTAR