LIWA (Lampost.co)--Setelah meresmikan Kebun Raya Liwa (KRL) sebagai daerah tujuan wisata di Lampung Barat, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat akan meresmikan Stadion Bumi Sekala Brak sebagai pusat kegiatan Olaharga, Sabtu (9/12) mendatang.
Peresmian Stadion berkapasitas 6.000 pengunjung yang berlokasi di komplek kawasan sekuting terpadu (KST) Kecamatan Balikbukit dan bertepatan dengan hari terakhir masa jabatan Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri dan wakil Bupati Makmur Azhari tersebut akan dimeriahkan klub sepak bola kebanggaan masyarakat Lampung (Lampung Sakti) dan   empat pemain tim nasional ( Timnas). 
"Saat ini kita masih terus mempersiapkan acara peresmian Stadion, Insya Allah Lampung Sakti dan empat pemain team nas akan hadir," kata Kepala dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR), Ansari di ruang kerjanya, Rabu (6/12/2017).
Ke empat pemain Timnas yang akan menjajal stadion Bumi Sekala Brak antara lain Dedi Hartono pemain timnas senior kelahiran Lampung Selatan yang kini merumput di Barito Putra, Mandacingi pemain  kelahiran Bandar lampung yang kini memperkuat keseblasan Sriwijaya FC, dan pemain Barito Putra, Tolauhu Abdul Musafri yang istrinya berasal dari Pekon Bedudu Kecamatan Belalau Lampung Barat, serta pemain Timnas lainnya M. Robi.
"Jadi tiga pemain teamnas ini memiliki keterkaitan dengan Lampung, apalagi Abdul musafri, sama dengan pulang kampung halaman, karena Istrinya Orang Batubrak Brak," terang Ansari.
Lanjut Ansari, rencanannya persemian stadion akan dihadiri lebih dari 9.000 undangan, mulai dari pemerintah provinsi Lampung, pengurus KONI se Lampung, dinas olahara se Lampung, seluruh pengcab se Lampung Barat. Selanjutnya melibatkan tokoh adat dari empat kepaksian, tokoh masuarakat se Lampung Barat, kepala sekolah se Lampung Barat dan seluruh lapisan masyarakat.
"Kalau sesuai undangan, itu lebih dari 9.000 undangan. Sebagian susah mengkonfirmasi akan hadir," terang dia.
Ditegaskan Ansari, stadion yang mulai dirintis pembangunannya  sejak 2010 lalu dan sempat terhenti selama dua tahun kemudian dilanjutkan kembali di tahun 2013 tersebut telah mempertimbangkan kondisi alam Lampung Barat yang masuk pada daerah rawan gempa.
"Jadi sejak awal kontruksinya memang kita buat konsep bangunan antigempa, karena memang Lampung Barat ini masuk daerah patahan semangko (lintasan gempa). Jadi kita perhatikan kaedah-kaedah dan konsep rumah tahan Gempa," ucapnya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR