KALIANDA (Lampost.co) -- Pemanfaatan Embung atau cekungan untuk menampung air hujan di Desa Bangunan, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, dinilai petani setempat tidak maksimal. Sebab, embung yang dibangun dengan menggunakan dana APBN tersebut tidak mampu menampung air yang akan digunakan saat musim kemarau. 
Diono (41) petani asal Dusun Magelang, Desa Bangunan mengatakan embung yang dibangun pada 2018 itu dinilai belum maksimal untuk menampung air ketika musim hujan untuk digunakan saat kemarau. Embung itu tidak pernah terisi penuh saat penghujan.
"Beberapa pekan lalu aja saat belum ada hujan, embung itu kering. Sekarang aja karena ada hujan beberapa hari yang lalu baru ada airnya. Yang jelas kurang maksimal kalau musim kemarau," kata dia, Selasa (16/7/2019).
Lantaran debit airnya terbatas, kata Diono, petani harus bergantian untuk melakukan penyedotan air dari embung tersebut. Jika tidak bergantian, maka pasokan air tidak mampu mengairi lahan sawah. 
"Saya saja nyedot air ini giliran dengan petani lain. Ya, paling hanya setengah hari jatah saya nyedot. Dalam setengah hari cuma dijadwalkan hanya dua orang," kata dia. 
Sementara itu, Kepala UPTD Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Kecamatan Palas, Agus Santosa mengatakan embung itu dibangun pada 2018 dan dikerjakan secara swakelola oleh petani. Adapun anggarannya sebesar lebih dari Rp100 juta dari Dana Alokasi Khusus DAK 2018.
"Memang dari pusatnya seperti itu bangunannya sudah memenuhi syarat untuk embung. Embung itu untuk membantu hamparan seluas 20 hektare. Adapun ukuran embung itu panjang 50 meter, lebar 6 meter dan kedalaman 6 meter," kata dia. 
 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR