TRAGIS memang, hanya 9% generasi millennial Indonesia yang tertarik terhadap isu politik. Sebuah studi yang dilakukan Yogrt, aplikasi media sosial berbasis lokasi, menunjukkan kebersamaan menjadi nilai utama yang diutamakan generasi millennial, bukan pencapaian dirinya seperti yang kerap direkatkan pada anak-anak muda.

Studi yang bertajuk Yogrt 2017: Millennial Akar Rumput Indonesia itu melibatkan sekitar 5.000 pengguna Yogrt sebagai responden.  "Peran krusial generasi millennial di setiap sisi kehidupan masyarakat makin tidak bisa dipungkiri, terlebih menjadi generasi penerus, baik di bidang sosial, politik, maupun ekonomi,“ kata Co-founder Yogrt, Jason Lim, ketika memaparkan hasil studinya di Jakarta, baru-baru ini.



Berbeda dengan hasil riset Charta Politika Indonesia. Lembaga ini mengungkapkan generasi millennial atau generasi Y bakal memberikan suaranya mencapai 47%—50% pada Pemilu 2019.  Kelompok yang lahir pada 1980—1995 itu memiliki karakteristik dan berpengaruh dalam menentukan siapa calon pemimpin bangsa di negeri ini.

Harvard University dan Pew Research mendefinisikan generasi millennial adalah mereka yang hari ini kurang lebih berusia 17 dan 29 tahun. Berkaitan itu, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) merilis survei nasional yang menyasar generasi millennial di 34 provinsi,  pada Agustus 2017. Hasilnya lebih 95% dari mereka optimistis pada masa depan Indonesia. 

Hasil rilis itu diperkuat juga pendapat Direktur Riset Charta Politik Indonesia, Muslimin. Dia menyatakan generasi millennial mendambakan pemimpin egaliter,  sederhana, dan memiliki harapan yang sesuai keinginan kaum muda. Bahkan kecenderungan generasi saat ini bakal menggeser pemilih tradisional yang dimiliki parpol apa pun basis kadernya. 

Ini fakta! Lalu bagaimana dengan parpol yang masih mempertahankan status quo? Lambat laun akan terkubur menjadi prasasti. Banyak partai hidup segan mati tak mau.

Jika ingin hidup, perlulah melakukan inovasi dan kreativitas. Sekarang apa yang diinginkan generasi millennial ini? Jawabnya, mereka butuh perubahan, berpikir kritis, mudah diajak bicara, serta mengelompok sesuai hobi yang memanfaatkan kecanggihan digital.

Pastinya, generasi masa kini sangat keterikatan dengan teknologi. Ini tidak bisa dihindari lagi. Yang menjadi catatan adalah teknologi supercangih dalam bentuk internet, game online, dan media sosial yang sedang digandrungi generasi millennial dapat diarahkan lebih positif lagi. 

Apakah parpol sudah merangkul generasi millennial ini? Jawabnya, masih sebatas wacana. Parpol hanya mengejar pengaruh dan kekuasaan, bukan membuat anak-anak bangsa menjadi cerdas dan pintar.  Ada parpol yang selalu ingin mempertahankan platform dan ideologinya untuk meraup suara dengan kepentingan pragmatisnya.

                             ***

Pendiri bangsa Bung Karno pernah berucap, "Beri aku 1.000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Akan tetapi beri aku juga 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia".

Ucapan tokoh proklamator itu sangat hebat dan terbukti. Dalam pidato selanjutnya, Soekarno kembali mengingatkan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.  

Pidato Bung Karno itu peringatan bagi anak bangsa yang hidup saat ini. Janganlah elite politik mempertontonkan kekonyolan, yang membuat jarak dengan generasi millennial. Anak bangsa di zaman now, butuh aktualisasi yang memengaruhi kehidupannya.  Generasi itu membutuhkan figur anutan, seperti perbuatan dan perkataan seiring dan sejalan.

Banyak pemimpin publik hanya lips service, mengatasnamakan rakyat, mengandalkan slogan-slogan mencari simpatik, tetapi di balik itu rakusnya tidak ketolongan. Jika anak muda apatis terhadap dunia politik juga pemimpin publik, bagaimana nasib masa depan bangsa ini? Sebab masih ada politikus yang bersuka cita mempertontonkan ketololannya. 

Oleh karena itu, suka tidak suka, mau tidak mau pejabat publik, elite parpol harus mengedepankan kepentingan lebih besar. Bukan kepentingan sesaat untuk melanggengkan jabatan.

Negeri ini rapuh jika tidak dikelola dengan baik. Indonesia memiliki 714 suku, 1.100 bahasa lokal dengan 17.000 pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Sangat luas negeri ini.
Bangsa ini juga kaya dengan budaya. Dunia terperangah dengan banyaknya ragam suku budaya, kekayaan alam yang tersebar di belantara hutan hingga di palung lautan.

Oleh sebab itu, negara luar tidak henti-hentinya ingin menjajah negeri ini. Baik itu penyelundupan narkoba maupun barang lainnya yang melumpuhkan generasi millennial.

Ingat! Nusantara ini seperti Zamrud Khatulistiwa. Sangat indah dan terpendam kekayaan alamnya.

Indonesia berada di antara dua samudera dan benua, yakni Samudera Pasifik dan Hindia, serta Benua Asia dan Australia. Tidak sadar memang kekayaan alam dan stabilitas politik negeri ini menjadi potensi membangun bangsa dari sisi ekonomi, sosial, hingga budaya. Dan itu sudah terbukti.

Oleh karena itu pula, untuk mengelola negara yang amat besar ini, anak-anak bangsa yang lagi duduk di tampuk kekuasaan agar melahirkan kebijakan-kebijakan yang bersifat memfasilitasi generasi millennial agar mereka ikut mengawal negeri ini, bukan dibatasi ruang gerak dan kreativitasnya.  ***

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR