KOTABUMI (lampost.co) -- Pengembangan ekonomi bagi masyarakat perdesaan bukan hanya di lahan pertanian dengan areal lahan yang luas. Pengembangan ekonomi kreatif bagi warga desa dapat dimulai di areal pekarangan rumah tangga dengan luas lahan yang lebih sempit.
Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Lampung Utara, Sirajudin Taha, di kediamannya,  Selasa (12/12/2017) mengatakan secara sederhana, pengembangan ekonomi kreatif perdesaan yang mestinya menjadi program unggulan daerah dengan memanfaatkan areal lahan pekarangan yang terbatas di sekitar lingkungan rumah pribadi khususnya bagi warga desa yang relatif memiliki lahan pekarangan yang lebih luas dibanding dengan lahan pekarangan milik masyarakat kota dapat menjadi daya dukung peningkatan ekonomi bagi keluarga. Asal, tata kelola pemanfaatannya mengacu pada komoditas pertanian yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran.
"Dibutuhkan cara pandang yang berbeda dari masyarakat desa dalam memanfaatkan lahan pekarangan. Dalam hal ini, mereka mesti menetapkan jenis komoditas yang memiliki nilai jual tinggi dan mengembangkannya di lahan terbatas secara intensif," ujarnya.
Dia mencontohkan pengembangan tanaman cabai jawa. Di pasaran pada tingkatan pengepul, harga buah kering cabai jawa cukup tinggi, berkisar Rp60 ribu--Rp70 ribu/kg, tanaman lada perdu, yang buahnya berkisar Rp35 ribu/kg. Selain itu jahe merah Rp9.000--Rp10 ribu/kg maupun kunyit Rp2.000/kg serta jenis tanaman bumbu dapur lainnya. Harga jual komoditas tersebut dapat lebih tinggi asal dijual langsung ke konsumen.
"Dengan jumlah hasil panen yang terbatas, harga di tingkat pengepul dapat bertahan pada kisaran harga relatif tinggi  bahkan dapat lebih tinggi bila dijual langsung kepada konsumen," kata Sirajudin. 
Selain itu, perlakuan secara intensif di lahan terbatas dengan memanfaatkan pupuk organik yang tersedia di lingkungan setempat dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi petani. Sebab, memangkas biaya modal yang mesti dikeluarkan termasuk biaya perawatan. Bukan hanya itu, bila sewaktu-waktu harga komoditas jatuh di pasaran, petani tidak mengalami kerugian besar karena tanaman tersebut merupakan tanaman selingan atau penunjang di samping tanaman yang menjadi komoditas utama yang diusahakan.
"Untuk pengembangannya khususnya pada pemasaran hasil, lembaga desa dapat ikut andil baik melalui BUMDes maupun anggaran PKK sehingga nilai jual komoditas di tingkat petani memiliki nilai tawar," kata Sirajudin.

 



 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR